Amerika Serikat kembali menunda momen kunci pengawasan cryptocurrency. Rapat pembahasan satu per satu oleh Komite Perbankan Senat yang dijadwalkan pada 15 Januari akhirnya diumumkan ditunda di menit terakhir. Penundaan ini melibatkan “Rancangan Undang-Undang Kejelasan Pasar Aset Digital” (Clarity Act) yang seharusnya menjadi tonggak regulasi pasar cryptocurrency di AS, namun kini terjebak dalam kebuntuan menjelang malam sebelum pengesahan.
Mengapa RUU Clarity Menimbulkan Geger di Industri
Sebagai legislasi penting yang bertujuan membangun kerangka regulasi cryptocurrency, tujuan utama RUU Clarity adalah memberikan kejelasan aturan bagi para pelaku pasar. Namun, menjelang pembahasan, CEO Coinbase Brian Armstrong secara terbuka menyatakan penarikan dukungan di platform komunitas, langsung memicu gelombang kejutan di industri. Armstrong menunjukkan bahwa draf revisi memiliki beberapa masalah, termasuk pembatasan tidak langsung terhadap pengembangan saham tokenisasi, penetapan larangan terhadap DeFi (Keuangan Terdesentralisasi), memperluas akses pemerintah terhadap catatan keuangan pribadi, melemahkan kewenangan Komisi Perdagangan Komoditas Berjangka AS (CFTC), serta pembatasan tidak wajar terhadap mekanisme penghasilan stablecoin.
Menurut Armstrong, RUU yang awalnya dimaksudkan untuk menertibkan tatanan pasar justru berpotensi merusak industri. Pembatasan saham tokenisasi akan menghambat inovasi dalam pengangkutan aset keuangan ke blockchain, sementara larangan terhadap DeFi bertentangan dengan nilai inti keuangan terdesentralisasi.
Ketidakseimbangan Kepentingan Menjadi Hambatan Utama
Ketua Komite Perbankan Senat, Senator Partai Republik Tim Scott, dalam pernyataan penundaan menegaskan bahwa RUU ini merupakan hasil negosiasi dan koordinasi serius selama berbulan-bulan dari kedua belah pihak, melibatkan inovator, investor, dan lembaga penegak hukum. Namun, hasil yang tampaknya mencapai konsensus ini sebenarnya masih menyisakan perbedaan besar.
Perdebatan utama terkait mekanisme penghasilan stablecoin. Menurut sumber yang mengetahui, kekuatan oposisi dari industri perbankan melebihi ekspektasi, bahkan Tim Scott pun sulit memastikan bahwa seluruh anggota Partai Republik akan mendukung penuh RUU ini. Ini berarti, bahkan di dalam partai yang sama, RUU Clarity belum mendapatkan suara bulat.
Konflik Politik yang Tersembunyi
Selain ketegangan antara industri dan perbankan, permainan politik antara Partai Demokrat dan Gedung Putih juga mulai muncul. Anggota Demokrat bersikeras memasukkan ketentuan etika yang ketat dalam RUU, membatasi pejabat tinggi pemerintah dari mendapatkan keuntungan dari industri cryptocurrency. Ketentuan ini dipandang sebagai langkah yang menargetkan tokoh politik tertentu dan keluarga mereka dalam pengaturan cryptocurrency (seperti proyek World Liberty Financial yang aktif baru-baru ini).
Namun, norma etika ini menghadapi resistensi dari Gedung Putih selama proses negosiasi, karena ketentuan tersebut berpotensi membatasi investasi cryptocurrency mereka sendiri. Akhirnya, Tim Scott menyatakan bahwa masalah etika sebaiknya diserahkan kepada Komite Etika Senat, yang secara efektif menunda isu sensitif ini dan mengurangi konflik langsung antar partai.
Harapan Industri dan Realitas yang Jauh Berbeda
Industri cryptocurrency telah menginvestasikan banyak sumber daya dalam lobi politik dan sumbangan dana, berharap RUU Clarity akan menjadi titik balik regulasi yang patut diikuti di AS. Namun, harapan besar terhadap RUU ini kini hancur sebelum mencapai garis finis. Meskipun Komite Pertanian Senat menunda pembahasan RUU terkait hingga akhir bulan, kedua komite masih berpotensi menggabungkan pembahasan, namun penundaan oleh Komite Perbankan ini jelas menimbulkan bayang-bayang terhadap masa depan RUU Clarity. Ketidakpastian regulasi cryptocurrency di AS pun meningkat secara drastis.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
RUU Clarity terjebak dalam kebuntuan, legislasi pengaturan mata uang kripto AS kembali mengalami hambatan
Amerika Serikat kembali menunda momen kunci pengawasan cryptocurrency. Rapat pembahasan satu per satu oleh Komite Perbankan Senat yang dijadwalkan pada 15 Januari akhirnya diumumkan ditunda di menit terakhir. Penundaan ini melibatkan “Rancangan Undang-Undang Kejelasan Pasar Aset Digital” (Clarity Act) yang seharusnya menjadi tonggak regulasi pasar cryptocurrency di AS, namun kini terjebak dalam kebuntuan menjelang malam sebelum pengesahan.
Mengapa RUU Clarity Menimbulkan Geger di Industri
Sebagai legislasi penting yang bertujuan membangun kerangka regulasi cryptocurrency, tujuan utama RUU Clarity adalah memberikan kejelasan aturan bagi para pelaku pasar. Namun, menjelang pembahasan, CEO Coinbase Brian Armstrong secara terbuka menyatakan penarikan dukungan di platform komunitas, langsung memicu gelombang kejutan di industri. Armstrong menunjukkan bahwa draf revisi memiliki beberapa masalah, termasuk pembatasan tidak langsung terhadap pengembangan saham tokenisasi, penetapan larangan terhadap DeFi (Keuangan Terdesentralisasi), memperluas akses pemerintah terhadap catatan keuangan pribadi, melemahkan kewenangan Komisi Perdagangan Komoditas Berjangka AS (CFTC), serta pembatasan tidak wajar terhadap mekanisme penghasilan stablecoin.
Menurut Armstrong, RUU yang awalnya dimaksudkan untuk menertibkan tatanan pasar justru berpotensi merusak industri. Pembatasan saham tokenisasi akan menghambat inovasi dalam pengangkutan aset keuangan ke blockchain, sementara larangan terhadap DeFi bertentangan dengan nilai inti keuangan terdesentralisasi.
Ketidakseimbangan Kepentingan Menjadi Hambatan Utama
Ketua Komite Perbankan Senat, Senator Partai Republik Tim Scott, dalam pernyataan penundaan menegaskan bahwa RUU ini merupakan hasil negosiasi dan koordinasi serius selama berbulan-bulan dari kedua belah pihak, melibatkan inovator, investor, dan lembaga penegak hukum. Namun, hasil yang tampaknya mencapai konsensus ini sebenarnya masih menyisakan perbedaan besar.
Perdebatan utama terkait mekanisme penghasilan stablecoin. Menurut sumber yang mengetahui, kekuatan oposisi dari industri perbankan melebihi ekspektasi, bahkan Tim Scott pun sulit memastikan bahwa seluruh anggota Partai Republik akan mendukung penuh RUU ini. Ini berarti, bahkan di dalam partai yang sama, RUU Clarity belum mendapatkan suara bulat.
Konflik Politik yang Tersembunyi
Selain ketegangan antara industri dan perbankan, permainan politik antara Partai Demokrat dan Gedung Putih juga mulai muncul. Anggota Demokrat bersikeras memasukkan ketentuan etika yang ketat dalam RUU, membatasi pejabat tinggi pemerintah dari mendapatkan keuntungan dari industri cryptocurrency. Ketentuan ini dipandang sebagai langkah yang menargetkan tokoh politik tertentu dan keluarga mereka dalam pengaturan cryptocurrency (seperti proyek World Liberty Financial yang aktif baru-baru ini).
Namun, norma etika ini menghadapi resistensi dari Gedung Putih selama proses negosiasi, karena ketentuan tersebut berpotensi membatasi investasi cryptocurrency mereka sendiri. Akhirnya, Tim Scott menyatakan bahwa masalah etika sebaiknya diserahkan kepada Komite Etika Senat, yang secara efektif menunda isu sensitif ini dan mengurangi konflik langsung antar partai.
Harapan Industri dan Realitas yang Jauh Berbeda
Industri cryptocurrency telah menginvestasikan banyak sumber daya dalam lobi politik dan sumbangan dana, berharap RUU Clarity akan menjadi titik balik regulasi yang patut diikuti di AS. Namun, harapan besar terhadap RUU ini kini hancur sebelum mencapai garis finis. Meskipun Komite Pertanian Senat menunda pembahasan RUU terkait hingga akhir bulan, kedua komite masih berpotensi menggabungkan pembahasan, namun penundaan oleh Komite Perbankan ini jelas menimbulkan bayang-bayang terhadap masa depan RUU Clarity. Ketidakpastian regulasi cryptocurrency di AS pun meningkat secara drastis.