14岁时 kamu sedang melakukan apa? Mungkin masih di dalam kelas mengeluh tanpa semangat, sementara Li Fo Mo sudah pergi dari rumah dengan membawa 5 dolar. Pria yang kemudian dikenal sebagai “Raja Short Selling” ini, menggunakan seumur hidupnya untuk mengilustrasikan apa yang disebut “kutukan jenius”—dia bisa meraup 7,5 juta dolar dalam tiga bulan, tapi juga bisa bangkrut empat kali berturut-turut karena keserakahan; teori trading-nya dipuja Warren Buffett sebagai klasik, namun akhirnya bersembunyi di lemari hotel dengan sebuah peluru untuk mengakhiri legenda.
Dari Pelarian di Pertanian ke Bangsawan Baru di Wall Street: Masa Remaja yang Bersinar dengan Bakat
Li Fo Mo lahir tahun 1877 dari keluarga petani miskin—sejak kecil menunjukkan bakat matematika luar biasa—mulai belajar membaca laporan keuangan saat berusia 5 tahun. Tapi takdir berbalik saat ia berumur 14 tahun: ayahnya bersikeras agar dia mewarisi identitas petani, sementara ibunya diam-diam mengumpulkan 5 dolar (setara dengan 180 dolar hari ini) untuk mendukung anak cerdas ini melarikan diri dari “pertanian bau amis itu.”
Musim semi 1891, Li Fo Mo naik kereta menuju Boston. Ia tidak mengikuti rencana ibunya, malah tertarik pada papan harga saham di depan gedung Paine Webber. Dengan penampilan yang tampak dewasa, ia berhasil diterima sebagai pencatat harga di papan pengumuman, memulai karier di dunia keuangan.
Pekerjaan ini tampak membosankan, tapi bagi Li Fo Mo, itu adalah peta rahasia ke ilmu keahlian. Ia menemukan pola tersembunyi dalam pencatatan harian:
Beberapa kombinasi angka muncul berulang, seperti pola tetap dalam permainan kartu
Harga saham Union Pacific Railway sering berfluktuasi pada waktu tertentu
Transaksi besar sering didukung oleh level harga tertentu (misalnya “50 dolar tidak akan jatuh di bawah”)
Menggambar kurva harga di atas kertas kotak, ia menyadari bahwa koreksi saham tertentu selalu sekitar 3/8 dari gelombang sebelumnya
Hingga suatu saat, saat mencatat futures kapas, Li Fo Mo tiba-tiba mendapatkan pencerahan—angka-angka ini “bernapas,” naik seperti tangga, turun seperti tumpukan salju yang runtuh. Pemahaman ini, seperti membuka “chakra” utama, menjadi fondasi teori analisis teknikal yang akan berkembang selama puluhan tahun kemudian.
Pada usia 16 tahun, Li Fo Mo menginvestasikan 5 dolar di sebuah tempat judi dan meraih keuntungan 3,12 dolar. Kemenangan ini membuatnya berhenti dari pekerjaan dan menjadi trader penuh waktu. Dengan keuntungan beruntun, ia memenangkan reputasi buruk di tempat judi Boston—hingga akhirnya tempat itu melarangnya masuk. Pada usia 20 tahun, ia sudah mengumpulkan 10.000 dolar (setara dengan 300.000 dolar saat ini), tapi diusir dari kasino.
Cinta Pertama di New York dan Kebangkrutan Pertama: Jenius pun Punya Kelemahan
1899, usia 23 tahun, Li Fo Mo pindah ke pusat keuangan New York dan bertemu gadis Indian bernama Nattie Jordan. Beberapa minggu kemudian mereka menikah secara kilat. Tapi, pemuda ini terlalu percaya diri dengan kemampuan adaptasinya di panggung besar—dia mengandalkan data dari alat otomatis yang merekam pergerakan saham, tanpa menyadari bahwa data tersebut tertinggal 30-40 menit dari pasar nyata.
Dalam setahun, karena gagal bertransaksi beruntun, Li Fo Mo bangkrut. Untuk bangkit kembali, dia meminta istrinya menggadaikan perhiasan yang dibelinya dalam jumlah besar. Penolakan Nattie dan keteguhan Li Fo Mo akhirnya menyebabkan mereka bercerai tujuh tahun kemudian. Pengalaman ini menanamkan benih—antara uang dan cinta, Li Fo Mo selalu memilih yang pertama.
Pesta Short Selling saat Gempa Bumi: Momen Terkenal Li Fo Mo
1906, usia 28 tahun, Li Fo Mo telah membangun kembali modal 100.000 dolar. Tapi ia mulai meragukan gaya trading konservatifnya, bahkan merasa gelisah tak terkendali. Untuk menenangkan hati, ia pergi berlibur ke Palm Beach.
Di sanalah, takdir menyiapkan panggung sempurna—pada 18 April 1906, gempa bumi berkekuatan 7,9 skala Richter mengguncang San Francisco, hampir menghancurkan kota. Pasar secara umum memperkirakan Union Pacific Railway (UP) akan naik karena kebutuhan rekonstruksi, tapi Li Fo Mo justru berlawanan.
Alur logikanya sangat rapi: gempa menyebabkan volume pengangkutan UP turun drastis dalam waktu singkat; perusahaan asuransi harus menjual saham blue-chip untuk likuidasi; laporan keuangan UP akan jauh di bawah ekspektasi pasar. Dari sudut pandang teknikal, harga UP sempat rebound tapi volume berkurang, menunjukkan kekurangan pembeli—ini adalah “titik kunci” yang ia tunggu.
Li Fo Mo membangun posisi short secara bertahap melalui beberapa broker, menghindari terdeteksi. Ia membagi rencana short menjadi tiga tahap:
4-5 bulan: membangun posisi short di sekitar 160 dolar, pasar belum merespons dampak gempa
Juni: laporan keuangan UP keluar, penjualan besar-besaran oleh institusi menekan harga di bawah 150 dolar, Li Fo Mo menambah posisi short
Juli: kepanikan meluas, UP jatuh di bawah 100 dolar, Li Fo Mo menutup posisi di sekitar 90 dolar
Dalam tiga bulan, transaksi epik ini memberinya keuntungan 250.000 dolar—setara dengan sekitar 7,5 juta dolar di tahun 2025. Pertempuran ini menegaskan statusnya sebagai “Raja Short Selling Wall Street,” dan membuatnya menyadari pentingnya jaringan informasi.
Krisis 1907: Keajaiban Mendapatkan 1 Miliar Dolar dalam Seminggu
Kalau gempa San Francisco adalah pertunjukan debut Li Fo Mo, maka krisis keuangan 1907 adalah mahkota kemenangannya. Ia menemukan bahwa Trust Company of America menggunakan leverage tinggi untuk membeli obligasi sampah, sangat bergantung pada pinjaman jangka pendek. Ketika suku bunga antar bank melonjak dari 6% ke 100%, alarm krisis likuiditas berbunyi.
Li Fo Mo menyamar sebagai mata-mata, menyelidiki daftar agunan beberapa trust, memastikan asetnya sangat buruk. Ia lalu melakukan short secara tersembunyi terhadap Union Pacific, US Steel dan saham utama lain, serta membeli opsi put untuk mengurangi risiko.
Pada 14 Oktober, ia secara terbuka meragukan kemampuan pembayaran Nickeburg Trust, memicu penarikan dana besar-besaran; dalam tiga hari trust tersebut bangkrut. Pada 22 Oktober, ia memanfaatkan aturan “penyerahan 24 jam” untuk menjual saham secara massal sebelum pasar tutup, memicu stop-loss otomatis. Pada 24 Oktober, ketua NYSE sendiri memohon agar ia berhenti short. Sebi sebelum Morgan mengumumkan suntikan dana, Li Fo Mo secara tepat waktu menutup 70% posisi short-nya. Pada 30 Oktober, saat pasar stabil, ia menutup semua posisi.
Total keuntungan: 3 juta dolar—setara dengan sekitar 100 juta dolar di 2025. Dalam seminggu, kekayaannya berlipat ganda. Ia berkata, “Pasar butuh pembersihan total.”
Kemenangan ini membangun jaringan intelijen Li Fo Mo dan membuatnya ketagihan kekuasaan.
Perangkap Kapas: Jenius yang Menghancurkan Diri Sendiri
1915, Li Fo Mo mengalami pukulan terbesar dalam karier—bukan karena pasar gagal, tapi karena pengkhianatan manusia. Temannya, Teddy Price, adalah otoritas kapas, yang secara tampak mendukung kapas, tapi diam-diam bersekongkol dengan petani untuk short. Price memanfaatkan kelemahan psikologis Li Fo Mo yang ingin membuktikan kemampuan cross-market, terus-menerus menyebarkan ilusi kekurangan pasokan.
Walaupun Li Fo Mo menemukan fakta berbeda dari database dan pandangan Price, ia tetap percaya padanya. Akhirnya, ia memegang posisi long 3 juta pon kapas futures, jauh di luar batas rasional. Ketika kenyataan terungkap, ia merugi 3 juta dolar—modal dari keuntungan short 1907. Kegagalan ini melanggar tiga aturan utama:
Jangan pernah percaya saran orang lain
Jangan pernah menutup posisi rugi secara paksa
Jangan biarkan narasi fundamental mengalahkan sinyal harga
Reaksi berantai ini menyebabkan Li Fo Mo bangkrut berturut-turut di 1915-1916. Bukan sekadar tertipu, ini adalah hukuman dari jenius terhadap dirinya sendiri—seperti pemain judi yang gagal all-in.
Bangkit Kembali: Contoh Klasik Serangan Balik dari Titik Terjepit
Setelah bangkrut, Li Fo Mo mengajukan perlindungan kebangkrutan dan mencapai kesepakatan dengan kreditur, menyisakan 50.000 dolar untuk hidup. Dengan mendapatkan kredit rahasia dari saingannya, Daniel Williamson, dengan syarat semua transaksi dilakukan melalui perusahaannya (sebenarnya pengawasan terselubung), ia menggunakan leverage 1:5, dengan posisi tidak lebih dari 10% dari total dana—semua ini justru membantunya menata ulang disiplin trading.
1915, Perang Dunia I pecah. Pesanan militer AS meningkat pesat, tapi pasar belum bereaksi terhadap harga saham Bethlehem Steel. Li Fo Mo menemukan bahwa perusahaan ini bocoran data keuangan yang belum diumumkan, volume transaksi membesar tapi harga tetap datar—tanda akumulasi.
Ia mulai membangun posisi di 50 dolar, menginvestasikan 5% modal; bulan Agustus, saat harga menembus 60 dolar, ia menambah posisi; September, saat kembali ke 58 dolar, ia menolak stop-loss karena yakin tren naik belum terganggu. Hingga Januari berikutnya, harga melonjak ke 700 dolar, dan ia keluar dengan keuntungan 14 kali lipat. Modal 50.000 dolar berubah menjadi 300.000 dolar.
Kebangkitan ini menunjukkan ketahanan Li Fo Mo di saat putus asa—ia tidak hanya mendapatkan kembali modalnya, tapi juga kepercayaan diri.
Kehidupan Mewah dan Harga yang Dibayar: Uang, Kekasih, dan Tiga Pernikahan
Puluhan tahun berikutnya, kisah Li Fo Mo berubah menjadi siklus uang, wanita, dan nafsu. Ia membangun bisnis trading resmi, meraup 15 juta dolar, lalu pindah ke kantor lebih besar dengan 60 karyawan. Pada 1925, ia meraup 10 juta dolar dari perdagangan gandum dan jagung; saat Wall Street crash 1929, ia kembali meraup 100 juta dolar dari short—setara dengan sekitar 15 miliar dolar saat ini.
Namun kekayaan ini perlahan menguap karena perceraian, pajak, dan pemborosan. Dalam proses perceraian panjang dengan istri pertamanya, Nattie (bahkan ia menyewa detektif swasta untuk merebut kembali mobilnya), Li Fo Mo menikah dengan penari dari grup Zigfield. Meski mereka punya dua anak, ia berselingkuh dengan penyanyi opera Eropa, Anita Venice, dan membeli kapal pesiar mewah yang dinamai sesuai namanya. Monyetnya, Momo, juga ikut serta. Tapi, Momo kemudian kecanduan alkohol dan menjadi pemabuk.
The New Yorker menulis, “Li Fo Mo di pasar seperti pisau bedah, tapi di asmara seperti pemabuk. Sepanjang hidupnya, ia selalu short di pasar, tapi selalu long di cinta—dan keduanya membuatnya bangkrut.”
1931, ia bercerai untuk kedua kalinya. Monyet dan Anita mendapatkan bagian dari harta, dan akhirnya ia hanya mendapatkan 22.200 dolar dari rumah mewah yang lengkap dengan pelayan dan taman. Rumah itu akhirnya dibongkar, dan kehangatan keluarga selama bertahun-tahun hilang seketika. Perhiasan dan cincin pernikahan yang ia berikan kepada Anita juga dijual murah. Bagi seorang jenius, luka emosional sering lebih menyakitkan daripada kerugian uang.
1932, usia 55 tahun, ia bertemu Harriet Metz Noble, sosialita yang sudah bercerai, berusia 38 tahun. Media kemudian menebak bahwa Harriet salah menilai kekayaan Li Fo Mo—sebenarnya ia berutang 2 juta dolar. Setelah kebangkrutan terakhir tahun 1934, mereka harus keluar dari apartemen di Manhattan dan bertahan dengan menjual perhiasan.
Bab Akhir yang Putus Asa: Tembakan Terakhir di Lemari Hotel
November 1940, Harriet bunuh diri di kamar hotel dengan pistol revolver milik Li Fo Mo—suratnya menyebutkan “tak mampu lagi menahan kemiskinan dan alkoholnya.” Dalam diary-nya, Li Fo Mo menulis, “Aku telah membunuh semua orang yang dekat denganku.”
Setahun kemudian, 28 November 1941, sebelum Thanksgiving, di lemari pakaian Hotel Sherry-Holland di Manhattan, terdengar suara tembakan. Depresi berat, Li Fo Mo menembakkan pistol revolver Colt .32 yang selalu dibawanya sejak 1907—senjata pertahanan yang ia gunakan saat meraup keuntungan besar dari short selling—ke kepala sendiri. Secara takdir, pistol yang sama menjadi penutup kisah hidupnya.
Ada tiga kalimat tertulis di catatan kecil:
“Hidupku adalah sebuah kegagalan”“Aku muak bertarung, tak mampu lagi bertahan”“Ini satu-satunya jalan keluar”
Hanya tersisa 8,24 dolar di saku dan satu tiket taruhan balap kuda kadaluarsa. Hanya 15 orang yang menghadiri pemakamannya, termasuk 2 kreditur. Makamnya tanpa nisan sela
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Trader Wall Street, Li Fomo: Dari mulai $5 hingga bunuh diri dengan tembakan, mengapa jenius jatuh ke dalam keputusasaan
14岁时 kamu sedang melakukan apa? Mungkin masih di dalam kelas mengeluh tanpa semangat, sementara Li Fo Mo sudah pergi dari rumah dengan membawa 5 dolar. Pria yang kemudian dikenal sebagai “Raja Short Selling” ini, menggunakan seumur hidupnya untuk mengilustrasikan apa yang disebut “kutukan jenius”—dia bisa meraup 7,5 juta dolar dalam tiga bulan, tapi juga bisa bangkrut empat kali berturut-turut karena keserakahan; teori trading-nya dipuja Warren Buffett sebagai klasik, namun akhirnya bersembunyi di lemari hotel dengan sebuah peluru untuk mengakhiri legenda.
Dari Pelarian di Pertanian ke Bangsawan Baru di Wall Street: Masa Remaja yang Bersinar dengan Bakat
Li Fo Mo lahir tahun 1877 dari keluarga petani miskin—sejak kecil menunjukkan bakat matematika luar biasa—mulai belajar membaca laporan keuangan saat berusia 5 tahun. Tapi takdir berbalik saat ia berumur 14 tahun: ayahnya bersikeras agar dia mewarisi identitas petani, sementara ibunya diam-diam mengumpulkan 5 dolar (setara dengan 180 dolar hari ini) untuk mendukung anak cerdas ini melarikan diri dari “pertanian bau amis itu.”
Musim semi 1891, Li Fo Mo naik kereta menuju Boston. Ia tidak mengikuti rencana ibunya, malah tertarik pada papan harga saham di depan gedung Paine Webber. Dengan penampilan yang tampak dewasa, ia berhasil diterima sebagai pencatat harga di papan pengumuman, memulai karier di dunia keuangan.
Pekerjaan ini tampak membosankan, tapi bagi Li Fo Mo, itu adalah peta rahasia ke ilmu keahlian. Ia menemukan pola tersembunyi dalam pencatatan harian:
Hingga suatu saat, saat mencatat futures kapas, Li Fo Mo tiba-tiba mendapatkan pencerahan—angka-angka ini “bernapas,” naik seperti tangga, turun seperti tumpukan salju yang runtuh. Pemahaman ini, seperti membuka “chakra” utama, menjadi fondasi teori analisis teknikal yang akan berkembang selama puluhan tahun kemudian.
Pada usia 16 tahun, Li Fo Mo menginvestasikan 5 dolar di sebuah tempat judi dan meraih keuntungan 3,12 dolar. Kemenangan ini membuatnya berhenti dari pekerjaan dan menjadi trader penuh waktu. Dengan keuntungan beruntun, ia memenangkan reputasi buruk di tempat judi Boston—hingga akhirnya tempat itu melarangnya masuk. Pada usia 20 tahun, ia sudah mengumpulkan 10.000 dolar (setara dengan 300.000 dolar saat ini), tapi diusir dari kasino.
Cinta Pertama di New York dan Kebangkrutan Pertama: Jenius pun Punya Kelemahan
1899, usia 23 tahun, Li Fo Mo pindah ke pusat keuangan New York dan bertemu gadis Indian bernama Nattie Jordan. Beberapa minggu kemudian mereka menikah secara kilat. Tapi, pemuda ini terlalu percaya diri dengan kemampuan adaptasinya di panggung besar—dia mengandalkan data dari alat otomatis yang merekam pergerakan saham, tanpa menyadari bahwa data tersebut tertinggal 30-40 menit dari pasar nyata.
Dalam setahun, karena gagal bertransaksi beruntun, Li Fo Mo bangkrut. Untuk bangkit kembali, dia meminta istrinya menggadaikan perhiasan yang dibelinya dalam jumlah besar. Penolakan Nattie dan keteguhan Li Fo Mo akhirnya menyebabkan mereka bercerai tujuh tahun kemudian. Pengalaman ini menanamkan benih—antara uang dan cinta, Li Fo Mo selalu memilih yang pertama.
Pesta Short Selling saat Gempa Bumi: Momen Terkenal Li Fo Mo
1906, usia 28 tahun, Li Fo Mo telah membangun kembali modal 100.000 dolar. Tapi ia mulai meragukan gaya trading konservatifnya, bahkan merasa gelisah tak terkendali. Untuk menenangkan hati, ia pergi berlibur ke Palm Beach.
Di sanalah, takdir menyiapkan panggung sempurna—pada 18 April 1906, gempa bumi berkekuatan 7,9 skala Richter mengguncang San Francisco, hampir menghancurkan kota. Pasar secara umum memperkirakan Union Pacific Railway (UP) akan naik karena kebutuhan rekonstruksi, tapi Li Fo Mo justru berlawanan.
Alur logikanya sangat rapi: gempa menyebabkan volume pengangkutan UP turun drastis dalam waktu singkat; perusahaan asuransi harus menjual saham blue-chip untuk likuidasi; laporan keuangan UP akan jauh di bawah ekspektasi pasar. Dari sudut pandang teknikal, harga UP sempat rebound tapi volume berkurang, menunjukkan kekurangan pembeli—ini adalah “titik kunci” yang ia tunggu.
Li Fo Mo membangun posisi short secara bertahap melalui beberapa broker, menghindari terdeteksi. Ia membagi rencana short menjadi tiga tahap:
Dalam tiga bulan, transaksi epik ini memberinya keuntungan 250.000 dolar—setara dengan sekitar 7,5 juta dolar di tahun 2025. Pertempuran ini menegaskan statusnya sebagai “Raja Short Selling Wall Street,” dan membuatnya menyadari pentingnya jaringan informasi.
Krisis 1907: Keajaiban Mendapatkan 1 Miliar Dolar dalam Seminggu
Kalau gempa San Francisco adalah pertunjukan debut Li Fo Mo, maka krisis keuangan 1907 adalah mahkota kemenangannya. Ia menemukan bahwa Trust Company of America menggunakan leverage tinggi untuk membeli obligasi sampah, sangat bergantung pada pinjaman jangka pendek. Ketika suku bunga antar bank melonjak dari 6% ke 100%, alarm krisis likuiditas berbunyi.
Li Fo Mo menyamar sebagai mata-mata, menyelidiki daftar agunan beberapa trust, memastikan asetnya sangat buruk. Ia lalu melakukan short secara tersembunyi terhadap Union Pacific, US Steel dan saham utama lain, serta membeli opsi put untuk mengurangi risiko.
Pada 14 Oktober, ia secara terbuka meragukan kemampuan pembayaran Nickeburg Trust, memicu penarikan dana besar-besaran; dalam tiga hari trust tersebut bangkrut. Pada 22 Oktober, ia memanfaatkan aturan “penyerahan 24 jam” untuk menjual saham secara massal sebelum pasar tutup, memicu stop-loss otomatis. Pada 24 Oktober, ketua NYSE sendiri memohon agar ia berhenti short. Sebi sebelum Morgan mengumumkan suntikan dana, Li Fo Mo secara tepat waktu menutup 70% posisi short-nya. Pada 30 Oktober, saat pasar stabil, ia menutup semua posisi.
Total keuntungan: 3 juta dolar—setara dengan sekitar 100 juta dolar di 2025. Dalam seminggu, kekayaannya berlipat ganda. Ia berkata, “Pasar butuh pembersihan total.”
Kemenangan ini membangun jaringan intelijen Li Fo Mo dan membuatnya ketagihan kekuasaan.
Perangkap Kapas: Jenius yang Menghancurkan Diri Sendiri
1915, Li Fo Mo mengalami pukulan terbesar dalam karier—bukan karena pasar gagal, tapi karena pengkhianatan manusia. Temannya, Teddy Price, adalah otoritas kapas, yang secara tampak mendukung kapas, tapi diam-diam bersekongkol dengan petani untuk short. Price memanfaatkan kelemahan psikologis Li Fo Mo yang ingin membuktikan kemampuan cross-market, terus-menerus menyebarkan ilusi kekurangan pasokan.
Walaupun Li Fo Mo menemukan fakta berbeda dari database dan pandangan Price, ia tetap percaya padanya. Akhirnya, ia memegang posisi long 3 juta pon kapas futures, jauh di luar batas rasional. Ketika kenyataan terungkap, ia merugi 3 juta dolar—modal dari keuntungan short 1907. Kegagalan ini melanggar tiga aturan utama:
Reaksi berantai ini menyebabkan Li Fo Mo bangkrut berturut-turut di 1915-1916. Bukan sekadar tertipu, ini adalah hukuman dari jenius terhadap dirinya sendiri—seperti pemain judi yang gagal all-in.
Bangkit Kembali: Contoh Klasik Serangan Balik dari Titik Terjepit
Setelah bangkrut, Li Fo Mo mengajukan perlindungan kebangkrutan dan mencapai kesepakatan dengan kreditur, menyisakan 50.000 dolar untuk hidup. Dengan mendapatkan kredit rahasia dari saingannya, Daniel Williamson, dengan syarat semua transaksi dilakukan melalui perusahaannya (sebenarnya pengawasan terselubung), ia menggunakan leverage 1:5, dengan posisi tidak lebih dari 10% dari total dana—semua ini justru membantunya menata ulang disiplin trading.
1915, Perang Dunia I pecah. Pesanan militer AS meningkat pesat, tapi pasar belum bereaksi terhadap harga saham Bethlehem Steel. Li Fo Mo menemukan bahwa perusahaan ini bocoran data keuangan yang belum diumumkan, volume transaksi membesar tapi harga tetap datar—tanda akumulasi.
Ia mulai membangun posisi di 50 dolar, menginvestasikan 5% modal; bulan Agustus, saat harga menembus 60 dolar, ia menambah posisi; September, saat kembali ke 58 dolar, ia menolak stop-loss karena yakin tren naik belum terganggu. Hingga Januari berikutnya, harga melonjak ke 700 dolar, dan ia keluar dengan keuntungan 14 kali lipat. Modal 50.000 dolar berubah menjadi 300.000 dolar.
Kebangkitan ini menunjukkan ketahanan Li Fo Mo di saat putus asa—ia tidak hanya mendapatkan kembali modalnya, tapi juga kepercayaan diri.
Kehidupan Mewah dan Harga yang Dibayar: Uang, Kekasih, dan Tiga Pernikahan
Puluhan tahun berikutnya, kisah Li Fo Mo berubah menjadi siklus uang, wanita, dan nafsu. Ia membangun bisnis trading resmi, meraup 15 juta dolar, lalu pindah ke kantor lebih besar dengan 60 karyawan. Pada 1925, ia meraup 10 juta dolar dari perdagangan gandum dan jagung; saat Wall Street crash 1929, ia kembali meraup 100 juta dolar dari short—setara dengan sekitar 15 miliar dolar saat ini.
Namun kekayaan ini perlahan menguap karena perceraian, pajak, dan pemborosan. Dalam proses perceraian panjang dengan istri pertamanya, Nattie (bahkan ia menyewa detektif swasta untuk merebut kembali mobilnya), Li Fo Mo menikah dengan penari dari grup Zigfield. Meski mereka punya dua anak, ia berselingkuh dengan penyanyi opera Eropa, Anita Venice, dan membeli kapal pesiar mewah yang dinamai sesuai namanya. Monyetnya, Momo, juga ikut serta. Tapi, Momo kemudian kecanduan alkohol dan menjadi pemabuk.
The New Yorker menulis, “Li Fo Mo di pasar seperti pisau bedah, tapi di asmara seperti pemabuk. Sepanjang hidupnya, ia selalu short di pasar, tapi selalu long di cinta—dan keduanya membuatnya bangkrut.”
1931, ia bercerai untuk kedua kalinya. Monyet dan Anita mendapatkan bagian dari harta, dan akhirnya ia hanya mendapatkan 22.200 dolar dari rumah mewah yang lengkap dengan pelayan dan taman. Rumah itu akhirnya dibongkar, dan kehangatan keluarga selama bertahun-tahun hilang seketika. Perhiasan dan cincin pernikahan yang ia berikan kepada Anita juga dijual murah. Bagi seorang jenius, luka emosional sering lebih menyakitkan daripada kerugian uang.
1932, usia 55 tahun, ia bertemu Harriet Metz Noble, sosialita yang sudah bercerai, berusia 38 tahun. Media kemudian menebak bahwa Harriet salah menilai kekayaan Li Fo Mo—sebenarnya ia berutang 2 juta dolar. Setelah kebangkrutan terakhir tahun 1934, mereka harus keluar dari apartemen di Manhattan dan bertahan dengan menjual perhiasan.
Bab Akhir yang Putus Asa: Tembakan Terakhir di Lemari Hotel
November 1940, Harriet bunuh diri di kamar hotel dengan pistol revolver milik Li Fo Mo—suratnya menyebutkan “tak mampu lagi menahan kemiskinan dan alkoholnya.” Dalam diary-nya, Li Fo Mo menulis, “Aku telah membunuh semua orang yang dekat denganku.”
Setahun kemudian, 28 November 1941, sebelum Thanksgiving, di lemari pakaian Hotel Sherry-Holland di Manhattan, terdengar suara tembakan. Depresi berat, Li Fo Mo menembakkan pistol revolver Colt .32 yang selalu dibawanya sejak 1907—senjata pertahanan yang ia gunakan saat meraup keuntungan besar dari short selling—ke kepala sendiri. Secara takdir, pistol yang sama menjadi penutup kisah hidupnya.
Ada tiga kalimat tertulis di catatan kecil: “Hidupku adalah sebuah kegagalan” “Aku muak bertarung, tak mampu lagi bertahan” “Ini satu-satunya jalan keluar”
Hanya tersisa 8,24 dolar di saku dan satu tiket taruhan balap kuda kadaluarsa. Hanya 15 orang yang menghadiri pemakamannya, termasuk 2 kreditur. Makamnya tanpa nisan sela