Mengapa pasar saham AS mengalami krisis siklik? Bagaimana investor Taiwan harus merespons?

Pasar saham AS sering menjadi indikator arah pasar keuangan global. Ketika Wall Street mengalami volatilitas ekstrem, mulai dari pasar berkembang di Asia hingga pasar matang di Eropa, semuanya sulit untuk terhindar. Bagi investor Taiwan, memahami penyebab penurunan besar di pasar saham AS dan reaksi berantai yang terjadi telah menjadi pelajaran wajib. Artikel ini akan merangkum keruntuhan bersejarah yang mengubah sejarah keuangan, mengungkap logika di baliknya, dan membantu investor mempersiapkan diri sebelum gelombang berikutnya datang.

Keruntuhan besar pasar saham AS: dari 1929 hingga 2025

Sejarah pasar saham AS selama lebih dari seratus tahun penuh gejolak, dengan beberapa keruntuhan besar yang memiliki latar belakang dan karakteristik pasar masing-masing.

Era Depresi Besar 1929: Indeks Dow Jones jatuh 89% dalam 33 bulan. Penyebab utamanya adalah spekulasi berlebihan dan perdagangan dengan leverage yang menyebabkan valuasi jauh menyimpang dari ekonomi riil. Pada 1930, Kongres AS mengesahkan Smoot-Hawley Tariff Act yang meningkatkan tarif impor secara besar-besaran untuk lebih dari dua puluh ribu barang, memicu perang dagang balasan global, yang akhirnya menyebabkan resesi mendalam, tingkat pengangguran melonjak, dan Dow membutuhkan waktu 25 tahun untuk kembali ke level sebelum keruntuhan.

Peristiwa Black Monday 1987: Dow Jones anjlok 22,6% dalam satu hari, dan S&P 500 turun 34%. Krisis ini dipicu oleh kekacauan dalam perdagangan algoritmik. Saat itu, investor institusional menggunakan strategi “asuransi portofolio” yang otomatis menjual kontrak berjangka indeks saham untuk lindung nilai. Ketika pasar tiba-tiba jatuh, banyak institusi secara bersamaan memicu penjualan, menciptakan lingkaran setan dan akhirnya krisis likuiditas. Federal Reserve segera menyuntikkan likuiditas, dan pasar pulih dalam dua tahun, serta memperkenalkan mekanisme circuit breaker yang terkenal.

Krisis dot-com 2000-2002: Nasdaq jatuh dari 5133 ke 1108 poin, penurunan 78%. Revolusi internet di akhir 1990-an memicu gelembung pasar yang tidak rasional, dengan banyak perusahaan internet tanpa dasar profitabilitas yang harga sahamnya melambung tinggi. Fed menaikkan suku bunga untuk menurunkan ekonomi yang terlalu panas, dan gelembung meletus, menyebabkan banyak perusahaan bangkrut. Nasdaq membutuhkan waktu 15 tahun untuk pulih.

Krisis subprime 2007-2009: Menghantam sistem keuangan global secara sistemik. Ledakan gelembung properti di AS menyebabkan gagal bayar pinjaman subprime, dan risiko disusun menjadi derivatif kompleks yang menyebar ke seluruh dunia. Dow turun dari 14.279 ke 6.800 poin, penurunan 52%. Pengangguran global melonjak hingga 10%, dan setelah intervensi pemerintah, pasar baru pulih pada 2013.

Dampak pandemi COVID-19 2020: Pasar saham AS mengalami circuit breaker berkali-kali, dan ketiga indeks utama jatuh tajam, dengan Dow turun lebih dari 30% dalam satu bulan. Aktivitas ekonomi berhenti, rantai pasok terganggu, dan perang harga minyak terjadi. Namun, langkah cepat Federal Reserve dalam pelonggaran kuantitatif dan stimulus fiskal pemerintah membalikkan keadaan, dan S&P 500 bahkan mencatat rekor tertinggi dalam enam bulan.

Siklus kenaikan suku bunga 2022: S&P 500 turun 27%, Nasdaq turun 35%. Untuk melawan inflasi tinggi yang belum pernah terjadi selama 40 tahun (CPI mencapai 9,1%), Fed melakukan tujuh kenaikan suku bunga sepanjang tahun, total 425 basis poin. Konflik Rusia-Ukraina memperburuk krisis energi dan pangan, tetapi lonjakan investasi AI dan ekspektasi perubahan kebijakan Fed mendorong rebound pasar yang kuat, mengembalikan pasar ke posisi sebelum bear market.

Krisis tarif Trump April 2025: Peristiwa paling ekstrem. Pada 4 April, Dow Jones anjlok 2.231 poin (5,50%), S&P 500 turun 5,97%, dan Nasdaq turun 5,82%. Pemerintah Trump mengumumkan tarif dasar 10% untuk semua mitra dagang dan mengenakan pajak lebih tinggi kepada negara dengan defisit perdagangan besar. Kebijakan agresif ini melampaui ekspektasi pasar, memicu kepanikan akan gangguan rantai pasok global. Dalam dua hari, ketiga indeks turun lebih dari 10%, mencatat penurunan terburuk sejak Maret 2020.

Ciri umum dan penyebab utama keruntuhan pasar saham AS

Mengamati krisis bersejarah ini, pola yang berulang adalah: gelembung harga aset membesar hingga ekstrem, kemudian perubahan kebijakan atau kejadian eksternal menjadi pemicu.

Spekulasi berlebihan dan leverage sering menjadi tanda peringatan pertama. Baik gelembung kredit 1929, gelembung teknologi 2000, maupun gelembung properti 2007, pelaku pasar menggunakan leverage untuk mendorong harga aset jauh di atas dasar ekonomi. Ketika sentimen berbalik dari optimisme ke keraguan, gelembung ini pecah secara dramatis.

Perubahan kebijakan moneter secara cepat juga sering menjadi pemicu. Siklus kenaikan suku bunga Fed biasanya menandai akhir dari fase ekonomi overheating. Saat suku bunga naik, biaya pinjaman meningkat, dan perusahaan dengan valuasi tinggi paling terdampak. Contohnya adalah siklus kenaikan suku bunga 2022 dan pecahnya gelembung dot-com 2000.

Geopolitik dan kejadian tak terduga: perang, pandemi, perang dagang, dan peristiwa black swan lainnya sering mengubah ekspektasi pasar secara mendadak, memicu kepanikan dan penjualan besar-besaran.

Reaksi berantai pasar saham AS terhadap aset global

Ketika pasar saham AS mengalami krisis, biasanya memicu mode perlindungan (risk-off), di mana dana mengalir dari aset berisiko tinggi ke instrumen safe haven.

Pergerakan terbalik obligasi dan imbal hasil paling mencolok. Saat pasar saham jatuh, investor menjadi lebih berhati-hati, dan dana besar mengalir ke obligasi AS yang dianggap paling aman, menyebabkan harga obligasi naik dan imbal hasil turun. Data historis menunjukkan bahwa dalam enam bulan setelah koreksi pasar atau berbalik menjadi bear market, imbal hasil obligasi AS biasanya turun sekitar 45 basis poin. Jika penurunan pasar disebabkan inflasi (seperti 2022), awalnya bisa terjadi double whammy (penurunan saham dan obligasi), tetapi saat ketakutan beralih ke resesi, fungsi lindung nilai obligasi kembali dominan.

Penguatan dolar AS: sebagai mata uang transaksi global dan safe haven utama, dolar AS cenderung menguat saat ketakutan pasar melanda. Investor global menjual aset risiko dan membeli dolar, ditambah kebutuhan pelunasan pinjaman dolar dari leverage, menciptakan permintaan besar terhadap dolar.

Emas sebagai aset lindung nilai tradisional: biasanya naik saat kepercayaan pasar runtuh, sebagai perlindungan terhadap ketidakpastian. Jika penurunan pasar saham disertai ekspektasi penurunan suku bunga Fed, emas mendapat dorongan ganda (permintaan lindung nilai + suku bunga turun). Namun, di awal kenaikan suku bunga, daya tarik emas bisa berkurang karena biaya peluang yang lebih tinggi.

Bahan baku industri dan komoditas: biasanya mengikuti penurunan pasar saham karena menandakan perlambatan ekonomi dan berkurangnya permintaan terhadap minyak, tembaga, dan bahan mentah lainnya. Tetapi jika penurunan disebabkan gangguan geopolitik (misalnya konflik minyak), harga minyak bisa naik lagi, menciptakan stagflasi.

Cryptocurrency: perilakunya lebih mirip aset berisiko tinggi seperti saham teknologi. Meskipun ada yang menganggapnya sebagai “emas digital”, dalam volatilitas pasar nyata, saat saham jatuh, investor cenderung menjual crypto untuk likuiditas atau menutupi kerugian di pasar saham.

Dampak penurunan pasar saham AS terhadap pasar Taiwan

Secara historis, korelasi pasar saham AS dan Taiwan sangat tinggi. Penurunan besar di AS biasanya mempengaruhi pasar Taiwan melalui tiga jalur utama.

Pertama, penularan sentimen pasar: sebagai indikator utama global, penurunan di AS langsung memicu kepanikan global. Saat sentimen perlindungan meningkat, investor akan menjual saham Taiwan dan pasar berkembang lainnya. Contohnya adalah krisis pasar global Maret 2020 akibat COVID-19, di mana Taiwan turun lebih dari 20%.

Kedua, keluar dana asing: investor asing adalah pemain utama di pasar Taiwan. Saat volatilitas di AS meningkat, mereka sering menarik dana dari pasar berkembang termasuk Taiwan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas atau rebalancing portofolio, menekan harga saham Taiwan. Pada 2022, sinyal kenaikan suku bunga agresif Fed menyebabkan koreksi signifikan di pasar Taiwan.

Ketiga, dampak nyata dari ekonomi riil: AS adalah pasar ekspor terbesar Taiwan. Resesi di AS langsung mengurangi permintaan terhadap produk Taiwan, terutama di sektor teknologi dan manufaktur. Penurunan prospek laba perusahaan akhirnya tercermin dalam harga saham. Contohnya adalah selama krisis keuangan 2008.

Bagaimana investor mengenali tanda-tanda peringatan sebelum badai?

Setiap penurunan besar di pasar saham tidak terjadi secara mendadak, melainkan ada tanda-tanda yang bisa diamati. Investor harus fokus pada empat kategori utama informasi.

Data ekonomi: pertumbuhan GDP, data ketenagakerjaan, indeks kepercayaan konsumen, dan laba perusahaan mencerminkan kesehatan ekonomi. Data yang memburuk sering menjadi indikator awal tekanan pasar.

Sinyal kebijakan moneter Fed: kenaikan suku bunga meningkatkan biaya pinjaman dan menurunkan prospek laba dan konsumsi; sebaliknya, penurunan suku bunga. Perubahan kebijakan sering menjadi titik balik pasar, sehingga investor harus mengikuti rapat dan pernyataan pejabat Fed secara ketat.

Risiko geopolitik dan kebijakan: konflik internasional, perubahan kebijakan perdagangan, dan kejadian black swan lainnya bisa mengubah ekspektasi pasar secara cepat. Contohnya adalah pengenalan kebijakan tarif Trump 2025.

Indikator sentimen pasar: indeks ketakutan VIX, posisi net worth investor, dan indikator lain menunjukkan tingkat optimisme atau pesimisme pasar. Faktor-faktor ini saling mempengaruhi—perubahan kebijakan mempengaruhi data ekonomi, yang kemudian mempengaruhi sentimen, dan akhirnya memicu volatilitas pasar.

Bagaimana investor ritel dapat aktif mengelola risiko penurunan pasar saham?

Ketika pasar saham mengalami gejolak besar, mekanisme aliran dana dan penyebaran sentimen akan mempengaruhi pasar Taiwan. Investor ritel harus waspada dan menerapkan strategi pengelolaan risiko aktif.

Penyesuaian alokasi aset: saat sinyal risiko muncul, kurangi porsi saham dan aset berisiko tinggi, dan tingkatkan cadangan kas serta obligasi berkualitas tinggi. Pendekatan ini memungkinkan partisipasi dalam kenaikan pasar sekaligus menjaga fleksibilitas saat pasar turun.

Penggunaan derivatif secara hati-hati: investor yang memahami produk derivatif dapat menggunakan strategi lindung nilai seperti protective put untuk melindungi posisi saham dari kerugian besar.

Pentingnya informasi yang cepat dan akurat: pengumuman data ekonomi, pernyataan kebijakan Fed, dan perkembangan kejadian internasional sering kali mencerminkan perubahan pasar secara dini. Mengurangi lag informasi membantu pengambilan keputusan tepat waktu dan menghindari reaksi pasif.

Secara keseluruhan, memahami siklus dan mekanisme berulang dari keruntuhan pasar saham AS, ditambah pengelolaan risiko aktif, adalah kunci bagi investor ritel untuk melindungi modal dan meraih peluang di pasar yang bergejolak. Sejarah tidak akan terulang sama persis, tetapi pola yang serupa sering muncul—setiap krisis menyimpan pola, dan mereka yang mampu mengenali pola ini biasanya akan keluar sebagai pemenang.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan

Perdagangkan Kripto Di Mana Saja Kapan Saja
qrCode
Pindai untuk mengunduh aplikasi Gate
Komunitas
Bahasa Indonesia
  • 简体中文
  • English
  • Tiếng Việt
  • 繁體中文
  • Español
  • Русский
  • Français (Afrique)
  • Português (Portugal)
  • Bahasa Indonesia
  • 日本語
  • بالعربية
  • Українська
  • Português (Brasil)