Leverage trading tidak asing di pasar saham, banyak investor pernah terlibat dalam margin trading atau day trading. Logika inti dari leverage keuangan sangat sederhana: menggunakan uang pinjaman untuk berinvestasi, dengan modal kecil menggerakkan volume transaksi yang lebih besar. Terdengar menggoda, tetapi risiko tersembunyi di baliknya cukup besar untuk membuat banyak orang kehilangan seluruh modalnya.
Apa itu leverage trading? Bagaimana mekanisme leverage keuangan bekerja
Esensi leverage trading adalah meminjam dana untuk berinvestasi. Misalnya, Anda memiliki modal sendiri sebesar 10 juta rupiah, meminjam 90 juta rupiah dari broker, untuk melakukan transaksi total sebesar 100 juta rupiah, ini disebut leverage 10 kali.
Contoh yang lebih langsung: misalnya indeks futures Taiwan baru-baru ini ditutup pada 13.000 poin, setiap poin bernilai 200 rupiah, sehingga total nilai satu kontrak futures Taiwan adalah 2.600.000 rupiah. Tapi Anda tidak perlu membayar seluruhnya, cukup membayar margin (misalnya 136.000 rupiah), untuk mengendalikan aset tersebut. Pada saat ini, leverage sekitar 19,11 kali, artinya dengan 13,6 juta rupiah Anda bisa mengendalikan aset bernilai 2,6 miliar rupiah.
Pendekatan ini tampaknya dapat meningkatkan efisiensi penggunaan dana, tetapi risiko juga meningkat berkali-kali lipat. Jika indeks futures Taiwan naik 5%, berdasarkan contoh di atas, Anda bisa mendapatkan keuntungan 130.000 rupiah, yang setara dengan 96% dari modal 136.000 rupiah. Sebaliknya, jika turun 5%, kerugian yang sama sebesar 130.000 rupiah hampir seluruh modal hilang.
Mekanisme risiko di balik leverage keuangan
Banyak investor muda salah paham bahwa “menang besar langsung profit besar, tidak perlu menambah dana saat margin call”, padahal kenyataannya, pemikiran seperti ini sering berakhir dengan kerugian besar. Saat pasar bergejolak dan investor tidak mampu menambah margin tepat waktu, broker akan melakukan forced liquidation untuk menghindari kerugian sendiri, yang dikenal sebagai “margin call” atau “pembekuan posisi”.
Sebuah kasus nyata yang patut diwaspadai: Seorang YouTuber Korea bernama Satto pernah melakukan trading futures Bitcoin dengan leverage tinggi saat siaran langsung. Saat harga Bitcoin mencapai 41.666 dolar AS, dia membuka posisi long dengan leverage 25 kali, bertaruh BTC akan naik. Hasilnya, saat Bitcoin turun di bawah 40.000 dolar AS, dia tidak melakukan stop loss, malah menambah posisi leverage long, dan dalam beberapa jam kehilangan lebih dari 10 juta dolar AS. Kasus ini menunjukkan bahwa penyalahgunaan leverage yang tidak terkendali dan strategi trading yang tidak matang adalah kombinasi yang mematikan.
Diversifikasi alat leverage
Perdagangan futures
Futures adalah kontrak yang mengikat kedua pihak untuk membeli atau menjual pada harga tertentu di masa depan. Pasar futures mencakup beberapa kategori:
Logam: emas futures, perak futures, aluminium futures, dll.
Indeks: Dow Jones Industrial, S&P 500, Nasdaq, Hang Seng, dll.
Produk pertanian: gandum, kedelai, kapas futures
Energi: minyak mentah, gas alam, batu bara futures
Kontrak futures memiliki tingkat standarisasi tinggi, diperdagangkan di bursa futures, tetapi saat penyelesaian menghadapi volatilitas harga pasar spot yang tidak dapat diprediksi.
Perdagangan opsi
Opsi memberi pembeli hak (bukan kewajiban) untuk membeli atau menjual aset pada waktu tertentu dengan harga tertentu. Fleksibilitas ini menjadikan opsi pilihan bagi investor tingkat lanjut.
ETF leverage
Di pasar ETF, umum ditemukan produk seperti “ETF leverage dua kali” dan “ETF invers satu kali”, yang termasuk dalam kategori ETF leverage. Produk ini cocok untuk investor aktif jangka pendek, tetapi kelemahan utamanya adalah biaya transaksi yang mencapai 10-15 kali lipat dari biaya futures, dan kepemilikan jangka panjang dapat menggerogoti imbal hasil.
Contract for Difference (CFD)
CFD memungkinkan trader melakukan transaksi dua arah (long, short) melalui margin tanpa harus memiliki aset nyata, dan tidak terbatas pada tanggal settlement. Instrumen yang diperdagangkan sangat beragam, termasuk saham, logam mulia, komoditas, indeks, valuta asing, dan cryptocurrency, dengan spesifikasi kontrak yang fleksibel.
Kelebihan dan kekurangan leverage keuangan
Keunggulan:
Meningkatkan efisiensi modal adalah daya tarik utama leverage, modal kecil bisa berpartisipasi dalam transaksi besar. Selain itu, leverage dapat memperbesar keuntungan, dengan modal 100 dolar bisa diperdagangkan produk senilai 1.000 atau bahkan 10.000 dolar, dan saat profit, imbal hasilnya juga meningkat.
Kelemahan:
Semakin besar leverage, semakin tinggi risiko margin call dan kerugian besar. Jika terjadi kerugian, efek leverage memperbesar kerugian tersebut jauh melebihi ekspektasi. Oleh karena itu, manajemen risiko dan stop loss yang tepat sangat penting.
Cara menggunakan leverage trading secara sehat
Ahli investasi Robert Kiyosaki pernah menekankan bahwa penggunaan leverage secara moderat bisa menjadi alat untuk meningkatkan imbal hasil, kuncinya adalah bagaimana memanfaatkan dana pinjaman secara bijak untuk menambah kekayaan. Berikut beberapa saran:
Mulai dari leverage rendah: Jangan langsung menggunakan leverage tinggi, kenali pasar terlebih dahulu dengan leverage rendah
Selalu tetapkan stop loss: Tidak peduli berapa kali leverage digunakan, stop loss adalah disiplin yang tidak bisa ditawar
Persiapkan dana yang cukup: Sebelum melakukan leverage, pastikan memiliki margin yang cukup untuk menghadapi volatilitas
Hindari terlalu percaya diri: Produk dengan volatilitas tinggi dan leverage tinggi sering menyebabkan margin call cepat
Leverage sendiri tidak mutlak baik atau buruk, selama penggunaannya dalam pengendalian risiko, leverage dapat menjadi alat untuk meningkatkan imbal hasil. Tapi, syarat utamanya adalah investor harus memahami mekanisme leverage keuangan, menguasai strategi trading, dan selalu waspada.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Pengantar Leverage Keuangan: Bagaimana Perdagangan Leverage Meningkatkan Keuntungan dan Risiko
Leverage trading tidak asing di pasar saham, banyak investor pernah terlibat dalam margin trading atau day trading. Logika inti dari leverage keuangan sangat sederhana: menggunakan uang pinjaman untuk berinvestasi, dengan modal kecil menggerakkan volume transaksi yang lebih besar. Terdengar menggoda, tetapi risiko tersembunyi di baliknya cukup besar untuk membuat banyak orang kehilangan seluruh modalnya.
Apa itu leverage trading? Bagaimana mekanisme leverage keuangan bekerja
Esensi leverage trading adalah meminjam dana untuk berinvestasi. Misalnya, Anda memiliki modal sendiri sebesar 10 juta rupiah, meminjam 90 juta rupiah dari broker, untuk melakukan transaksi total sebesar 100 juta rupiah, ini disebut leverage 10 kali.
Contoh yang lebih langsung: misalnya indeks futures Taiwan baru-baru ini ditutup pada 13.000 poin, setiap poin bernilai 200 rupiah, sehingga total nilai satu kontrak futures Taiwan adalah 2.600.000 rupiah. Tapi Anda tidak perlu membayar seluruhnya, cukup membayar margin (misalnya 136.000 rupiah), untuk mengendalikan aset tersebut. Pada saat ini, leverage sekitar 19,11 kali, artinya dengan 13,6 juta rupiah Anda bisa mengendalikan aset bernilai 2,6 miliar rupiah.
Pendekatan ini tampaknya dapat meningkatkan efisiensi penggunaan dana, tetapi risiko juga meningkat berkali-kali lipat. Jika indeks futures Taiwan naik 5%, berdasarkan contoh di atas, Anda bisa mendapatkan keuntungan 130.000 rupiah, yang setara dengan 96% dari modal 136.000 rupiah. Sebaliknya, jika turun 5%, kerugian yang sama sebesar 130.000 rupiah hampir seluruh modal hilang.
Mekanisme risiko di balik leverage keuangan
Banyak investor muda salah paham bahwa “menang besar langsung profit besar, tidak perlu menambah dana saat margin call”, padahal kenyataannya, pemikiran seperti ini sering berakhir dengan kerugian besar. Saat pasar bergejolak dan investor tidak mampu menambah margin tepat waktu, broker akan melakukan forced liquidation untuk menghindari kerugian sendiri, yang dikenal sebagai “margin call” atau “pembekuan posisi”.
Sebuah kasus nyata yang patut diwaspadai: Seorang YouTuber Korea bernama Satto pernah melakukan trading futures Bitcoin dengan leverage tinggi saat siaran langsung. Saat harga Bitcoin mencapai 41.666 dolar AS, dia membuka posisi long dengan leverage 25 kali, bertaruh BTC akan naik. Hasilnya, saat Bitcoin turun di bawah 40.000 dolar AS, dia tidak melakukan stop loss, malah menambah posisi leverage long, dan dalam beberapa jam kehilangan lebih dari 10 juta dolar AS. Kasus ini menunjukkan bahwa penyalahgunaan leverage yang tidak terkendali dan strategi trading yang tidak matang adalah kombinasi yang mematikan.
Diversifikasi alat leverage
Perdagangan futures
Futures adalah kontrak yang mengikat kedua pihak untuk membeli atau menjual pada harga tertentu di masa depan. Pasar futures mencakup beberapa kategori:
Kontrak futures memiliki tingkat standarisasi tinggi, diperdagangkan di bursa futures, tetapi saat penyelesaian menghadapi volatilitas harga pasar spot yang tidak dapat diprediksi.
Perdagangan opsi
Opsi memberi pembeli hak (bukan kewajiban) untuk membeli atau menjual aset pada waktu tertentu dengan harga tertentu. Fleksibilitas ini menjadikan opsi pilihan bagi investor tingkat lanjut.
ETF leverage
Di pasar ETF, umum ditemukan produk seperti “ETF leverage dua kali” dan “ETF invers satu kali”, yang termasuk dalam kategori ETF leverage. Produk ini cocok untuk investor aktif jangka pendek, tetapi kelemahan utamanya adalah biaya transaksi yang mencapai 10-15 kali lipat dari biaya futures, dan kepemilikan jangka panjang dapat menggerogoti imbal hasil.
Contract for Difference (CFD)
CFD memungkinkan trader melakukan transaksi dua arah (long, short) melalui margin tanpa harus memiliki aset nyata, dan tidak terbatas pada tanggal settlement. Instrumen yang diperdagangkan sangat beragam, termasuk saham, logam mulia, komoditas, indeks, valuta asing, dan cryptocurrency, dengan spesifikasi kontrak yang fleksibel.
Kelebihan dan kekurangan leverage keuangan
Keunggulan: Meningkatkan efisiensi modal adalah daya tarik utama leverage, modal kecil bisa berpartisipasi dalam transaksi besar. Selain itu, leverage dapat memperbesar keuntungan, dengan modal 100 dolar bisa diperdagangkan produk senilai 1.000 atau bahkan 10.000 dolar, dan saat profit, imbal hasilnya juga meningkat.
Kelemahan: Semakin besar leverage, semakin tinggi risiko margin call dan kerugian besar. Jika terjadi kerugian, efek leverage memperbesar kerugian tersebut jauh melebihi ekspektasi. Oleh karena itu, manajemen risiko dan stop loss yang tepat sangat penting.
Cara menggunakan leverage trading secara sehat
Ahli investasi Robert Kiyosaki pernah menekankan bahwa penggunaan leverage secara moderat bisa menjadi alat untuk meningkatkan imbal hasil, kuncinya adalah bagaimana memanfaatkan dana pinjaman secara bijak untuk menambah kekayaan. Berikut beberapa saran:
Leverage sendiri tidak mutlak baik atau buruk, selama penggunaannya dalam pengendalian risiko, leverage dapat menjadi alat untuk meningkatkan imbal hasil. Tapi, syarat utamanya adalah investor harus memahami mekanisme leverage keuangan, menguasai strategi trading, dan selalu waspada.