Bagaimana Posisi Paling Terkenal Berkshire Hathaway Dimulai
Pada akhir 1980-an, Warren Buffett menghadapi tantangan yang tidak biasa. Reputasinya sebagai investor telah menjadi sangat berpengaruh sehingga sekadar mengumumkan posisi baru akan memicu pergerakan pasar—sebuah masalah yang hanya bisa diimpikan oleh kebanyakan investor. Jadi dia melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya: dia mengajukan permohonan kepada Securities & Exchange Commission (SEC) untuk persetujuan diskresi agar aktivitas investasinya tetap tersembunyi selama satu tahun penuh, karena takut tindakan beliau akan menggerakkan pasar sebelum strategi pembeliannya selesai.
SEC menyetujui permohonan tersebut. Ketika Berkshire Hathaway menggelar pertemuan pemegang saham tahun 1988, para peserta tidak tahu bahwa Buffett diam-diam telah mengumpulkan 14 juta saham dari sebuah perusahaan minuman. Satu-satunya petunjuk datang dari pilihan minumannya di pertemuan—dia beralih dari PepsiCo ke Coca-Cola, menandakan perubahan besar dalam pemikirannya.
Dari Mahal Menjadi Tak Terkalahkan: Persiapan untuk Perdagangan Legendaris
Selama bertahun-tahun, Coca-Cola telah menjadi perhatian Buffett. Biografernya, Alice Schroeder, mencatat ketertarikannya yang lama terhadap merek tersebut. Namun, penilaian valuasinya selalu membuatnya di luar jangkauan—hingga strategi harga agresif Pepsi memicu penurunan kompetitif, menyebabkan saham Coca-Cola jatuh ke $38 per share.
Momen kelemahan itu menjadi peluang bagi Buffett. Dia menginvestasikan $600 juta awalnya, tetapi alih-alih langsung memasang semua modal sekaligus, dia membangun posisi tersebut secara bertahap dari waktu ke waktu. Pada 1994, ketika dia berhenti membeli, Berkshire mengendalikan tepat 400 juta saham, dengan total investasi sebesar $1,3 miliar. Berdasarkan penyesuaian inflasi, biaya rata-rata per sahamnya hanya $3,25—seharga yang terbukti menjadi salah satu potongan terbesar dalam kariernya.
Angka-angka sejak saat itu sangat mencengangkan. Harga saham Coca-Cola telah meningkat lebih dari 2.000% dalam dekade setelah pembelian awal tersebut. Namun yang lebih mengesankan adalah aliran pendapatannya: Berkshire kini mengumpulkan $816 juta setiap tahun dari dividen dari posisi tunggal ini—memberikan hasil lebih dari 50% dari investasi awal $1,3 miliar. Sedikit investasi dalam sejarah yang terbukti begitu transformatif.
Kisah Dividen yang Semakin Menarik
Ketika Buffett menulis surat pemegang saham 2022, dia menyoroti baik Coca-Cola maupun American Express sebagai dua pilar dari apa yang dia sebut “saus rahasia” yang mendorong jalur pengembalian luar biasa Berkshire sebesar 3.787.464% sejak 1965. Pada tahun itu, cek dividen Coca-Cola mencapai $702 juta—yang sendiri merupakan hasil hasil tahunan hampir 50% dari harga pembelian awal.
Lompat tiga tahun ke depan, dan aliran pendapatan itu hanya bertambah, mencapai $816 juta. Pada Februari, Coca-Cola mengumumkan kenaikan dividen ke-63 secara berturut-turut, mengukuhkan statusnya sebagai Dividend King—penghargaan yang hanya sedikit perusahaan yang bisa klaim. Manajemen tampaknya berkomitmen untuk memperpanjang streak ini.
Hasil saat ini sebesar 2,9% per saham, secara signifikan lebih tinggi dari rata-rata S&P 500 sebesar 1,14%. Meskipun perusahaan tidak secara publik meramalkan pertumbuhan dividen, metrik operasional menunjukkan ruang untuk ekspansi. Pertumbuhan laba per saham kuartal terakhir mencapai 30%, dan arus kas operasional mencapai $3,65 miliar—uang yang tersedia setelah semua biaya operasional untuk dividen, buyback, atau akuisisi.
Dengan 4,3 miliar saham beredar, dividen kuartalan Coca-Cola sebesar $0,51 per saham membutuhkan dana sebesar $2,19 miliar per kuartal, menyerap 60% dari arus kas operasional. Itu menyisakan cadangan 40%—ruang napas yang cukup besar untuk perusahaan yang matang, terutama karena margin terus berkembang.
Apresiasi Harga vs. Pendapatan: Memahami Perbandingan Nyata
Di sinilah tesis investasi berkembang. Coca-Cola tanpa diragukan lagi telah menjadi mesin pencetak kekayaan yang luar biasa bagi pemegang jangka panjang. Namun, investor yang prospektif harus membedakan antara dua tujuan berbeda: apresiasi modal dan penciptaan pendapatan.
Bagi mereka yang mencari pertumbuhan harga saham, catatan terbaru menunjukkan gambaran yang lebih modest. Dalam dekade terakhir, saham Coca-Cola naik 55%—cukup baik, tetapi kalah jauh dibandingkan apresiasi 223% dari S&P 500. Untuk perusahaan yang sudah mendominasi sektornya dengan ruang terbatas untuk ekspansi pangsa pasar, investor yang berorientasi pertumbuhan mungkin menemukan peluang yang lebih menarik di tempat lain.
Namun, bagi investor yang fokus pada pendapatan, kalkulasi berbeda sama sekali. Hasil dividen Coca-Cola yang di atas rata-rata, dipadukan dengan rekam jejak kenaikan pembayaran tahunan yang nyata, menjadikannya mesin pencetak uang. Manajemen telah menunjukkan kemampuan dan komitmen untuk menaikkan distribusi setiap tahun, menjadikannya pilihan ideal bagi mereka yang mengutamakan pendapatan stabil daripada keuntungan modal cepat.
Kesimpulan untuk Investor Saat Ini
Coca-Cola tetap sangat berposisi untuk mempertahankan jalur pertumbuhan dividen, sesuai dengan tesis awal Buffett bahwa perusahaan ini akan berfungsi sebagai mesin uang yang andal. Bagi investor yang tujuan utamanya adalah pendapatan saat ini yang didukung oleh apresiasi moderat, Coca-Cola layak dipertimbangkan secara serius.
Namun, mereka yang mengejar pengembalian eksplosif atau mencari eksposur ke pasar yang berkembang pesat kemungkinan akan menemukan alternatif yang lebih cocok. Posisi pasar matang dan tingkat pertumbuhan yang modest menunjukkan bahwa hari-hari terbaik untuk apresiasi modal mungkin sudah lewat—sebuah kenyataan yang tidak mengurangi daya tariknya bagi investor pendapatan, tetapi mengubah peluang bagi yang lain.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Investasi Coca-Cola yang Membuat Kekayaan Buffett: Apa yang Harus Diketahui Investor Saat Ini tentang Raksasa Dividen Ini
Bagaimana Posisi Paling Terkenal Berkshire Hathaway Dimulai
Pada akhir 1980-an, Warren Buffett menghadapi tantangan yang tidak biasa. Reputasinya sebagai investor telah menjadi sangat berpengaruh sehingga sekadar mengumumkan posisi baru akan memicu pergerakan pasar—sebuah masalah yang hanya bisa diimpikan oleh kebanyakan investor. Jadi dia melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya: dia mengajukan permohonan kepada Securities & Exchange Commission (SEC) untuk persetujuan diskresi agar aktivitas investasinya tetap tersembunyi selama satu tahun penuh, karena takut tindakan beliau akan menggerakkan pasar sebelum strategi pembeliannya selesai.
SEC menyetujui permohonan tersebut. Ketika Berkshire Hathaway menggelar pertemuan pemegang saham tahun 1988, para peserta tidak tahu bahwa Buffett diam-diam telah mengumpulkan 14 juta saham dari sebuah perusahaan minuman. Satu-satunya petunjuk datang dari pilihan minumannya di pertemuan—dia beralih dari PepsiCo ke Coca-Cola, menandakan perubahan besar dalam pemikirannya.
Dari Mahal Menjadi Tak Terkalahkan: Persiapan untuk Perdagangan Legendaris
Selama bertahun-tahun, Coca-Cola telah menjadi perhatian Buffett. Biografernya, Alice Schroeder, mencatat ketertarikannya yang lama terhadap merek tersebut. Namun, penilaian valuasinya selalu membuatnya di luar jangkauan—hingga strategi harga agresif Pepsi memicu penurunan kompetitif, menyebabkan saham Coca-Cola jatuh ke $38 per share.
Momen kelemahan itu menjadi peluang bagi Buffett. Dia menginvestasikan $600 juta awalnya, tetapi alih-alih langsung memasang semua modal sekaligus, dia membangun posisi tersebut secara bertahap dari waktu ke waktu. Pada 1994, ketika dia berhenti membeli, Berkshire mengendalikan tepat 400 juta saham, dengan total investasi sebesar $1,3 miliar. Berdasarkan penyesuaian inflasi, biaya rata-rata per sahamnya hanya $3,25—seharga yang terbukti menjadi salah satu potongan terbesar dalam kariernya.
Angka-angka sejak saat itu sangat mencengangkan. Harga saham Coca-Cola telah meningkat lebih dari 2.000% dalam dekade setelah pembelian awal tersebut. Namun yang lebih mengesankan adalah aliran pendapatannya: Berkshire kini mengumpulkan $816 juta setiap tahun dari dividen dari posisi tunggal ini—memberikan hasil lebih dari 50% dari investasi awal $1,3 miliar. Sedikit investasi dalam sejarah yang terbukti begitu transformatif.
Kisah Dividen yang Semakin Menarik
Ketika Buffett menulis surat pemegang saham 2022, dia menyoroti baik Coca-Cola maupun American Express sebagai dua pilar dari apa yang dia sebut “saus rahasia” yang mendorong jalur pengembalian luar biasa Berkshire sebesar 3.787.464% sejak 1965. Pada tahun itu, cek dividen Coca-Cola mencapai $702 juta—yang sendiri merupakan hasil hasil tahunan hampir 50% dari harga pembelian awal.
Lompat tiga tahun ke depan, dan aliran pendapatan itu hanya bertambah, mencapai $816 juta. Pada Februari, Coca-Cola mengumumkan kenaikan dividen ke-63 secara berturut-turut, mengukuhkan statusnya sebagai Dividend King—penghargaan yang hanya sedikit perusahaan yang bisa klaim. Manajemen tampaknya berkomitmen untuk memperpanjang streak ini.
Hasil saat ini sebesar 2,9% per saham, secara signifikan lebih tinggi dari rata-rata S&P 500 sebesar 1,14%. Meskipun perusahaan tidak secara publik meramalkan pertumbuhan dividen, metrik operasional menunjukkan ruang untuk ekspansi. Pertumbuhan laba per saham kuartal terakhir mencapai 30%, dan arus kas operasional mencapai $3,65 miliar—uang yang tersedia setelah semua biaya operasional untuk dividen, buyback, atau akuisisi.
Dengan 4,3 miliar saham beredar, dividen kuartalan Coca-Cola sebesar $0,51 per saham membutuhkan dana sebesar $2,19 miliar per kuartal, menyerap 60% dari arus kas operasional. Itu menyisakan cadangan 40%—ruang napas yang cukup besar untuk perusahaan yang matang, terutama karena margin terus berkembang.
Apresiasi Harga vs. Pendapatan: Memahami Perbandingan Nyata
Di sinilah tesis investasi berkembang. Coca-Cola tanpa diragukan lagi telah menjadi mesin pencetak kekayaan yang luar biasa bagi pemegang jangka panjang. Namun, investor yang prospektif harus membedakan antara dua tujuan berbeda: apresiasi modal dan penciptaan pendapatan.
Bagi mereka yang mencari pertumbuhan harga saham, catatan terbaru menunjukkan gambaran yang lebih modest. Dalam dekade terakhir, saham Coca-Cola naik 55%—cukup baik, tetapi kalah jauh dibandingkan apresiasi 223% dari S&P 500. Untuk perusahaan yang sudah mendominasi sektornya dengan ruang terbatas untuk ekspansi pangsa pasar, investor yang berorientasi pertumbuhan mungkin menemukan peluang yang lebih menarik di tempat lain.
Namun, bagi investor yang fokus pada pendapatan, kalkulasi berbeda sama sekali. Hasil dividen Coca-Cola yang di atas rata-rata, dipadukan dengan rekam jejak kenaikan pembayaran tahunan yang nyata, menjadikannya mesin pencetak uang. Manajemen telah menunjukkan kemampuan dan komitmen untuk menaikkan distribusi setiap tahun, menjadikannya pilihan ideal bagi mereka yang mengutamakan pendapatan stabil daripada keuntungan modal cepat.
Kesimpulan untuk Investor Saat Ini
Coca-Cola tetap sangat berposisi untuk mempertahankan jalur pertumbuhan dividen, sesuai dengan tesis awal Buffett bahwa perusahaan ini akan berfungsi sebagai mesin uang yang andal. Bagi investor yang tujuan utamanya adalah pendapatan saat ini yang didukung oleh apresiasi moderat, Coca-Cola layak dipertimbangkan secara serius.
Namun, mereka yang mengejar pengembalian eksplosif atau mencari eksposur ke pasar yang berkembang pesat kemungkinan akan menemukan alternatif yang lebih cocok. Posisi pasar matang dan tingkat pertumbuhan yang modest menunjukkan bahwa hari-hari terbaik untuk apresiasi modal mungkin sudah lewat—sebuah kenyataan yang tidak mengurangi daya tariknya bagi investor pendapatan, tetapi mengubah peluang bagi yang lain.