Dia Bagaimana Membangun Kerajaan Perdagangan dari Nol
1877 lahir dari keluarga petani Jesse Livermore, pada usia 14 tahun, melarikan diri dari ladang di Massachusetts bersama 5 dolar yang dikumpulkan ibunya, menuju Boston. Jenius matematika ini secara naluriah masuk ke gedung broker saham Pan-Wayber, menjadi seorang quote clerk.
Bakatnya perlahan muncul dalam pekerjaan sehari-hari—melalui pengamatan terhadap fluktuasi angka di otomatisator data saham, Jesse Livermore menemukan pola tersembunyi di dalamnya. Ia menyadari bahwa beberapa saham selalu mengalami koreksi dalam proporsi tertentu, dan pada waktu tertentu akan muncul fluktuasi harga yang serupa, seperti pola pernapasan pasar yang dapat dilacak. Pengamatan ini menjadi cikal bakal teori analisis teknikal modern.
Dengan pemahaman terhadap pola pasar, pada usia 16 tahun Jesse Livermore sudah beralih dari quote clerk menjadi trader penuh waktu, sering meraih keuntungan dari taruhan di pasar luar (jenis perdagangan di luar bursa yang menebak fluktuasi harga saham). Gaya trading-nya agresif dan akurat, kemampuan menang uangnya luar biasa, hingga akhirnya dilarang langsung dari pasar taruhan di Boston—seorang remaja berusia lebih dari 20 tahun mampu membuat kasino tutup untuknya.
Perjuangan Terkenal Jesse Livermore: Bagaimana Menjual Pendek dengan Presisi dan Mendapatkan Keuntungan Lebih dari Miliar
Gempa bumi San Francisco tahun 1906 memberi Jesse Livermore panggung untuk menunjukkan kemampuannya yang sesungguhnya.
Saat itu, pasar secara umum bullish terhadap saham rel kereta api Union Pacific, dengan logika bahwa pembangunan kembali akan meningkatkan permintaan transportasi. Tapi analisis Jesse Livermore justru sebaliknya—dia melakukan riset lapangan dan menemukan bahwa gempa menyebabkan penurunan tajam dalam pengiriman barang via rel kereta, perusahaan asuransi akan menjual saham untuk membayar klaim, dan laporan keuangan perusahaan jauh di bawah ekspektasi.
Dia tidak melakukan short secara buta, melainkan menunggu harga mencapai posisi teknikal tertentu lalu menambah posisi dalam tiga tahap. Tahap pertama membangun posisi short di 160 dolar, tahap kedua menambah saat harga menembus support di 150 dolar, dan tahap ketiga menutup posisi di bawah 100 dolar. Dalam waktu tiga bulan, Jesse Livermore meraup keuntungan lebih dari 250.000 dolar (setara sekitar 7,5 juta dolar saat ini).
Lebih legendaris lagi adalah operasi tahun 1907. Jesse Livermore secara rahasia menyelidiki dan menemukan bahwa Trust Company of New York berinvestasi secara besar-besaran dalam obligasi junk, dan suku bunga antar bank melonjak dari 6% ke 100%, menandakan krisis likuiditas yang akan meledak. Ia melakukan short secara tersebar melalui beberapa broker, memanfaatkan “aturan penyelesaian 24 jam” dan “metode pyramiding” untuk memicu stop loss otomatis.
Pada 24 Oktober, ketua NYSE sendiri memohon Jesse Livermore agar menghentikan posisi short-nya, dan kelompok Morgan segera masuk untuk menyelamatkan pasar. Jesse Livermore keluar tepat waktu dengan keuntungan bersih 3 juta dolar (setara 100 juta dolar saat ini), dan menegaskan posisinya sebagai “Raja Short di Wall Street.”
Tiga Aturan Gagal dari Jenius Perdagangan
Namun Jesse Livermore juga tidak tak terkalahkan. Ia pernah melanggar aturan inti trading yang ia buat sendiri, dengan konsekuensi sangat berat.
Pada 1915, ia tertipu oleh otoritas industri kapas Teddy Price, yang membuatnya memegang kontrak futures kapas sebanyak 3 juta pound, dan akhirnya merugi 3 juta dolar—menghapus seluruh keuntungan tahun 1907. Ia melakukan tiga kesalahan fatal: terlalu percaya pada saran orang lain, menutup posisi rugi secara merata, dan membiarkan narasi fundamental mengalahkan sinyal harga.
Kejadian ini memicu reaksi berantai, dan membuatnya bangkrut selama 1915-1916. Tapi Jesse Livermore menunjukkan daya pulih luar biasa. Setelah mengajukan perlindungan kebangkrutan dan dibatasi leverage 1:5, ia malah kembali membangun disiplin trading. Selama Perang Dunia I, ia kembali meraih keuntungan 3 juta dolar dari perdagangan saham Bethlehem Steel, dengan modal 50.000 dolar menggandakan keuntungan hingga 14 kali lipat.
Dalam dekade berikutnya, Jesse Livermore kembali meraup 10 juta dolar dari perdagangan futures gandum, dan saat crash Wall Street 1929, ia mendapatkan keuntungan 1 miliar dolar dari posisi short.
Mengapa Jenius Trading Akhirnya Memilih Melarikan Diri Secara Ekstrem
Namun kekayaan tidak mampu menyelamatkan dunia batin Jesse Livermore. Tiga kali menikah, empat kali bangkrut, dan banyak wanita serta skandal, hidupnya seperti permainan judi tanpa akhir. Istri keduanya, Dorothea, saat bercerai mendapatkan 10 juta dolar, namun ia menjual rumah mewah yang dibelinya seharga 350.000 dolar dengan harga murah 22.200 dolar. Perhiasan dan cincin pernikahan dijual seharga beberapa dolar.
Ketika bertemu istri ketiga, Harriet, tahun 1932, Jesse Livermore sebenarnya sudah berhutang 2 juta dolar. Pada November 1940, Harriet bunuh diri di kamar hotel, meninggalkan surat yang menyatakan “Tidak tahan lagi dengan kemiskinan dan alkoholnya.”
Pada 28 November 1941, di ruang ganti Hotel Shelton-Holland di Manhattan, Jesse Livermore menembak dirinya sendiri. Senjata yang digunakan adalah revolver Colt .32 yang sama dengan yang dibelinya setelah sukses besar tahun 1907. Ia meninggalkan tiga pesan terakhir: “Hidupku adalah kegagalan. Aku lelah berjuang dan tidak mampu lagi. Ini satu-satunya jalan keluar.” Hanya tersisa 8,24 dolar di sakunya dan satu tiket balapan yang kedaluwarsa.
Pelajaran dari Jesse Livermore untuk Trader Modern
Meskipun berakhir tragis, filosofi trading Jesse Livermore dianggap sebagai kitab suci oleh para master seperti Buffett dan Soros. Ia pernah berkata:
“Spekulasi adalah permainan paling memikat di dunia, tapi orang bodoh tidak boleh bermain, orang malas tidak seharusnya bermain, dan mereka yang rapuh secara mental tidak boleh bermain.”
“Wall Street tidak punya hal baru, karena sifat manusia tidak pernah berubah.”
“Pasar tidak pernah salah, yang salah adalah manusia.”
“Hanya trading saat pasar menunjukkan tren yang jelas.”
Kisah Jesse Livermore mengajarkan kita bahwa kemampuan trading dan kebijaksanaan hidup adalah dua hal berbeda. Ia mampu menembus pasar dengan presisi, tetapi tidak mampu mengendalikan keserakahan dan keinginannya sendiri. Dari 5 dolar menjadi miliaran, lalu mengakhiri hidup dengan satu tembakan, pelajaran paling mendalam dari legenda Wall Street ini bukan tentang bagaimana menghasilkan uang, melainkan bagaimana tetap waras setelah memperoleh kekayaan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Dari 5 dolar hingga kekayaan miliaran dan kemudian bunuh diri—mengapa kisah legenda Wall Street Jesse Livermore berakhir dengan tragedi
Dia Bagaimana Membangun Kerajaan Perdagangan dari Nol
1877 lahir dari keluarga petani Jesse Livermore, pada usia 14 tahun, melarikan diri dari ladang di Massachusetts bersama 5 dolar yang dikumpulkan ibunya, menuju Boston. Jenius matematika ini secara naluriah masuk ke gedung broker saham Pan-Wayber, menjadi seorang quote clerk.
Bakatnya perlahan muncul dalam pekerjaan sehari-hari—melalui pengamatan terhadap fluktuasi angka di otomatisator data saham, Jesse Livermore menemukan pola tersembunyi di dalamnya. Ia menyadari bahwa beberapa saham selalu mengalami koreksi dalam proporsi tertentu, dan pada waktu tertentu akan muncul fluktuasi harga yang serupa, seperti pola pernapasan pasar yang dapat dilacak. Pengamatan ini menjadi cikal bakal teori analisis teknikal modern.
Dengan pemahaman terhadap pola pasar, pada usia 16 tahun Jesse Livermore sudah beralih dari quote clerk menjadi trader penuh waktu, sering meraih keuntungan dari taruhan di pasar luar (jenis perdagangan di luar bursa yang menebak fluktuasi harga saham). Gaya trading-nya agresif dan akurat, kemampuan menang uangnya luar biasa, hingga akhirnya dilarang langsung dari pasar taruhan di Boston—seorang remaja berusia lebih dari 20 tahun mampu membuat kasino tutup untuknya.
Perjuangan Terkenal Jesse Livermore: Bagaimana Menjual Pendek dengan Presisi dan Mendapatkan Keuntungan Lebih dari Miliar
Gempa bumi San Francisco tahun 1906 memberi Jesse Livermore panggung untuk menunjukkan kemampuannya yang sesungguhnya.
Saat itu, pasar secara umum bullish terhadap saham rel kereta api Union Pacific, dengan logika bahwa pembangunan kembali akan meningkatkan permintaan transportasi. Tapi analisis Jesse Livermore justru sebaliknya—dia melakukan riset lapangan dan menemukan bahwa gempa menyebabkan penurunan tajam dalam pengiriman barang via rel kereta, perusahaan asuransi akan menjual saham untuk membayar klaim, dan laporan keuangan perusahaan jauh di bawah ekspektasi.
Dia tidak melakukan short secara buta, melainkan menunggu harga mencapai posisi teknikal tertentu lalu menambah posisi dalam tiga tahap. Tahap pertama membangun posisi short di 160 dolar, tahap kedua menambah saat harga menembus support di 150 dolar, dan tahap ketiga menutup posisi di bawah 100 dolar. Dalam waktu tiga bulan, Jesse Livermore meraup keuntungan lebih dari 250.000 dolar (setara sekitar 7,5 juta dolar saat ini).
Lebih legendaris lagi adalah operasi tahun 1907. Jesse Livermore secara rahasia menyelidiki dan menemukan bahwa Trust Company of New York berinvestasi secara besar-besaran dalam obligasi junk, dan suku bunga antar bank melonjak dari 6% ke 100%, menandakan krisis likuiditas yang akan meledak. Ia melakukan short secara tersebar melalui beberapa broker, memanfaatkan “aturan penyelesaian 24 jam” dan “metode pyramiding” untuk memicu stop loss otomatis.
Pada 24 Oktober, ketua NYSE sendiri memohon Jesse Livermore agar menghentikan posisi short-nya, dan kelompok Morgan segera masuk untuk menyelamatkan pasar. Jesse Livermore keluar tepat waktu dengan keuntungan bersih 3 juta dolar (setara 100 juta dolar saat ini), dan menegaskan posisinya sebagai “Raja Short di Wall Street.”
Tiga Aturan Gagal dari Jenius Perdagangan
Namun Jesse Livermore juga tidak tak terkalahkan. Ia pernah melanggar aturan inti trading yang ia buat sendiri, dengan konsekuensi sangat berat.
Pada 1915, ia tertipu oleh otoritas industri kapas Teddy Price, yang membuatnya memegang kontrak futures kapas sebanyak 3 juta pound, dan akhirnya merugi 3 juta dolar—menghapus seluruh keuntungan tahun 1907. Ia melakukan tiga kesalahan fatal: terlalu percaya pada saran orang lain, menutup posisi rugi secara merata, dan membiarkan narasi fundamental mengalahkan sinyal harga.
Kejadian ini memicu reaksi berantai, dan membuatnya bangkrut selama 1915-1916. Tapi Jesse Livermore menunjukkan daya pulih luar biasa. Setelah mengajukan perlindungan kebangkrutan dan dibatasi leverage 1:5, ia malah kembali membangun disiplin trading. Selama Perang Dunia I, ia kembali meraih keuntungan 3 juta dolar dari perdagangan saham Bethlehem Steel, dengan modal 50.000 dolar menggandakan keuntungan hingga 14 kali lipat.
Dalam dekade berikutnya, Jesse Livermore kembali meraup 10 juta dolar dari perdagangan futures gandum, dan saat crash Wall Street 1929, ia mendapatkan keuntungan 1 miliar dolar dari posisi short.
Mengapa Jenius Trading Akhirnya Memilih Melarikan Diri Secara Ekstrem
Namun kekayaan tidak mampu menyelamatkan dunia batin Jesse Livermore. Tiga kali menikah, empat kali bangkrut, dan banyak wanita serta skandal, hidupnya seperti permainan judi tanpa akhir. Istri keduanya, Dorothea, saat bercerai mendapatkan 10 juta dolar, namun ia menjual rumah mewah yang dibelinya seharga 350.000 dolar dengan harga murah 22.200 dolar. Perhiasan dan cincin pernikahan dijual seharga beberapa dolar.
Ketika bertemu istri ketiga, Harriet, tahun 1932, Jesse Livermore sebenarnya sudah berhutang 2 juta dolar. Pada November 1940, Harriet bunuh diri di kamar hotel, meninggalkan surat yang menyatakan “Tidak tahan lagi dengan kemiskinan dan alkoholnya.”
Pada 28 November 1941, di ruang ganti Hotel Shelton-Holland di Manhattan, Jesse Livermore menembak dirinya sendiri. Senjata yang digunakan adalah revolver Colt .32 yang sama dengan yang dibelinya setelah sukses besar tahun 1907. Ia meninggalkan tiga pesan terakhir: “Hidupku adalah kegagalan. Aku lelah berjuang dan tidak mampu lagi. Ini satu-satunya jalan keluar.” Hanya tersisa 8,24 dolar di sakunya dan satu tiket balapan yang kedaluwarsa.
Pelajaran dari Jesse Livermore untuk Trader Modern
Meskipun berakhir tragis, filosofi trading Jesse Livermore dianggap sebagai kitab suci oleh para master seperti Buffett dan Soros. Ia pernah berkata:
“Spekulasi adalah permainan paling memikat di dunia, tapi orang bodoh tidak boleh bermain, orang malas tidak seharusnya bermain, dan mereka yang rapuh secara mental tidak boleh bermain.”
“Wall Street tidak punya hal baru, karena sifat manusia tidak pernah berubah.”
“Pasar tidak pernah salah, yang salah adalah manusia.”
“Hanya trading saat pasar menunjukkan tren yang jelas.”
Kisah Jesse Livermore mengajarkan kita bahwa kemampuan trading dan kebijaksanaan hidup adalah dua hal berbeda. Ia mampu menembus pasar dengan presisi, tetapi tidak mampu mengendalikan keserakahan dan keinginannya sendiri. Dari 5 dolar menjadi miliaran, lalu mengakhiri hidup dengan satu tembakan, pelajaran paling mendalam dari legenda Wall Street ini bukan tentang bagaimana menghasilkan uang, melainkan bagaimana tetap waras setelah memperoleh kekayaan.