最近 kamu juga merasa dibanjiri topik investasi di media sosial? Commodity(Komoditas) ini sering muncul, mulai dari kopi, gula hingga emas, minyak mentah, sepertinya semua bisa diperdagangkan. Tapi jujur saja, banyak orang sama sekali tidak paham apa yang mereka perdagangkan, apalagi bagaimana cara menghasilkan uang. Hari ini kita bahas apa sebenarnya Commodity itu, dan mengapa kamu harus memperhatikannya.
Commodity sebenarnya apa? Versi bahasa manusia
Commodity, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi barang atau komoditas berjangka, tapi di sini yang dimaksud bukan barang yang kamu beli di supermarket. Ini merujuk pada bahan baku dan produk primer yang bisa digunakan untuk memproduksi barang lain atau langsung dikonsumsi.
Contoh spesifiknya: emas, perak, minyak mentah, gas alam, biji kopi, gula, tembaga, aluminium, semuanya termasuk. Kamu bisa menganggapnya sebagai “darah” dari ekonomi global—tanpa bahan baku ini, pabrik tidak bisa beroperasi, orang juga tidak bisa makan.
Berdasarkan sumbernya, Commodity secara umum dibagi menjadi dua kategori:
Komoditas lunak (Soft Commodities) — berasal dari pertanian, seperti kopi, gula, kapas. Ciri khasnya: masa simpan pendek, mudah dipengaruhi cuaca, harga sangat fluktuatif.
Komoditas keras (Hard Commodities) — berasal dari pertambangan, seperti logam dan energi. Barang ini bisa disimpan dalam waktu lama, tapi terbatas sumber dayanya, begitu habis, ya habis.
Apa saja jenis Commodity yang ada?
Berdasarkan cara produksinya dan penggunaannya, dibagi menjadi empat bagian utama:
Produk pertanian: kopi, gula, kapas, kedelai, dll. Harga barang ini sangat mudah jatuh karena tergantung cuaca, serangan hama, hasil panen.
Produk hewan dan daging: daging babi, sapi, kambing, dll. Dengan meningkatnya pendapatan negara berkembang, permintaan daging semakin besar.
Produk energi: minyak mentah (termasuk WTI dan Brent), gas alam, dll. Semakin panas ekonomi global, semakin tinggi permintaannya.
Logam dan logam mulia: emas (XAUUSD), perak (XAGUSD), tembaga (COPPER), platinum (XPTUSD), palladium (XPDUSD), dll. Barang ini adalah bahan industri sekaligus aset safe haven.
Di antara semua Commodity tersebut, emas, kopi, gula, minyak mentah, gas alam, tembaga adalah yang paling aktif diperdagangkan.
Apa yang menyebabkan harga Commodity naik turun?
Kalau mau untung dari perdagangan Commodity, kamu harus paham kenapa harga bisa naik turun. Ada empat faktor utama:
1. Perubahan dari sisi permintaan
Saat ekonomi baik, pabrik membutuhkan lebih banyak bahan baku, harga pun naik. Negara berkembang yang pendapatannya meningkat, konsumsi daging dan minyak juga bertambah, harga ikut melambung. Sebaliknya, saat ekonomi melambat, harga turun.
2. Kendala dari sisi pasokan
Produksi Commodity dipengaruhi banyak faktor: musim, cuaca, biaya tambang, risiko politik. Kalau daerah utama produksi mengalami kekeringan atau kerusuhan politik, pasokan tiba-tiba berkurang, harga langsung melambung.
3. Peristiwa acak yang tidak bisa dikendalikan
Pemanasan global menyebabkan cuaca ekstrem, perang mengganggu pasokan energi, pandemi mengubah pola konsumsi. Peristiwa black swan ini bisa langsung mengubah arah harga.
4. Dorongan dari spekulan
Investor besar masuk ke pasar berjangka Commodity, seringkali mengikuti tren naik turun. Harga tinggi menarik lebih banyak orang masuk, lalu harga pun semakin terdorong naik, menciptakan siklus penguatan sendiri.
Apa manfaat trading Commodity?
Hedge terhadap risiko inflasi: emas, perak, minyak mentah sering tampil kuat saat inflasi, melindungi daya beli aset kamu.
Diversifikasi risiko investasi: pergerakan harga Commodity biasanya tidak berkorelasi dengan saham dan obligasi, jadi bisa mengurangi volatilitas portofolio.
Likuiditas tinggi: volume transaksi besar, kapan saja bisa masuk dan keluar pasar, tidak perlu khawatir tidak ada pembeli.
Potensi keuntungan besar: saat ekonomi tidak pasti, harga Commodity bisa melonjak tajam. Apalagi saat pasokan terbatas, peluang profit dalam waktu singkat sangat besar.
Potensi pertumbuhan jangka panjang: dengan bertambahnya populasi global dan industrialisasi negara berkembang, permintaan banyak Commodity tetap meningkat.
Tapi, kamu harus tahu risiko-risikonya
1. Jangan remehkan risiko leverage
Perdagangan Commodity sering memakai leverage, semakin tinggi leverage, semakin besar risiko. Banyak yang bangkrut karena terlalu banyak memakai leverage dan salah langkah.
2. Volatilitas adalah pedang bermata dua
Harga Commodity biasanya dua kali lipat volatilitas saham, empat kali obligasi. Ini berarti akun bisa turun drastis dalam waktu singkat, dan membuat orang gampang panik.
3. Berlawanan dengan pergerakan saham
Seringkali saat Commodity naik, saham turun, dan sebaliknya. Ini bagus untuk diversifikasi, tapi juga berarti sulit untuk profit sekaligus di kedua pasar.
4. Tekanan lingkungan dan regulasi
Industri minyak, pertambangan, pertanian menghadapi regulasi lingkungan yang semakin ketat. Pasokan dan biaya produksi di masa depan bisa berubah karena aturan ini.
Bagaimana pemula bisa mulai trading Commodity?
Kamu tidak perlu benar-benar beli kopi satu kaleng atau minyak satu drum dan simpan di rumah, ada beberapa cara yang lebih cerdas:
Cara 1: ETF Commodity
Ini cara paling simpel. ETF adalah keranjang aset yang biasanya mengikuti harga suatu Commodity. Keuntungannya: modal awal kecil, bisa beli jual kapan saja, tidak perlu pusing soal penyimpanan. Kekurangannya: biaya bisa cukup tinggi.
Cara 2: Kontrak berjangka (Futures)
Ini cara yang lebih profesional. Kamu buat kontrak, setuju beli/jual Commodity di masa depan dengan harga hari ini. Leverage lebih tinggi, margin lebih kecil, tapi risikonya juga besar. Cocok untuk trader berpengalaman. Contohnya: WTI crude oil futures (USOIL-F) dan Brent crude oil futures (UKOIL-F).
Cara 3: Saham perusahaan terkait
Kalau merasa trading langsung terlalu rumit, bisa beli saham perusahaan yang bergerak di bidang Commodity, seperti perusahaan tambang, minyak, pertanian. Jadi kamu ikut pergerakan harga Commodity secara tidak langsung, risiko lebih rendah.
Cara 4: CFD (Contract for Difference)
CFD artinya “kontrak selisih harga”. Singkatnya, kamu tidak perlu punya aset fisik, cukup kontrak dengan broker berdasarkan selisih harga. Keunggulan CFD:
Dua arah: bisa buy (long) dan sell (short)
Leverage tinggi: modal kecil bisa kontrol posisi besar
Perdagangan 24 jam: bisa masuk dan keluar kapan saja
Beragam instrumen: tidak cuma Commodity, juga saham, indeks, dll
Perhatikan biaya tersembunyi saat trading Commodity
Banyak orang cuma fokus pada spread, padahal ada biaya lain yang bisa menggerogoti keuntungan kamu:
Spread: selisih harga beli dan jual. Contoh: harga beli emas $1949.02, jual $1949.47, selisihnya 0.45. Kamu baru mulai profit setelah harga naik lebih dari spread ini.
Biaya overnight (Swap): kalau posisi kamu terbuka melewati tengah malam, akan dikenai biaya swap. Besar kecilnya tergantung instrumen dan arah posisi.
Komisi: beberapa broker mengenakan biaya transaksi, ada yang tidak. Jadi penting memilih broker yang transparan.
Jadi, jangan cuma lihat keuntungan kotor, hitung semua biaya agar tahu profit bersihmu.
Jadwal trading Commodity
Tidak semua Commodity diperdagangkan 24 jam. Waktu operasional tergantung bursa. Berikut jadwal umum (waktu Thailand):
Sekarang kamu sudah tahu Commodity apa, cara tradingnya, dan risikonya. Yang terpenting: Commodity sebaiknya bukan satu-satunya instrumen investasi, tapi bagian dari portofolio.
Pilih broker yang tepat—yang menawarkan banyak instrumen, proses deposit dan penarikan cepat, biaya kompetitif. Dan yang paling penting, sebelum benar-benar trading, pahami betul apa yang kamu perdagangkan.
Jangan tergoda oleh janji keuntungan besar dari Commodity. Investasi yang stabil dan terukur selalu lebih baik daripada kejar-kejaran keuntungan instan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Mengapa begitu banyak orang bertransaksi Komoditas? Panduan lengkap investasi komoditas yang wajib diketahui pemula
最近 kamu juga merasa dibanjiri topik investasi di media sosial? Commodity(Komoditas) ini sering muncul, mulai dari kopi, gula hingga emas, minyak mentah, sepertinya semua bisa diperdagangkan. Tapi jujur saja, banyak orang sama sekali tidak paham apa yang mereka perdagangkan, apalagi bagaimana cara menghasilkan uang. Hari ini kita bahas apa sebenarnya Commodity itu, dan mengapa kamu harus memperhatikannya.
Commodity sebenarnya apa? Versi bahasa manusia
Commodity, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi barang atau komoditas berjangka, tapi di sini yang dimaksud bukan barang yang kamu beli di supermarket. Ini merujuk pada bahan baku dan produk primer yang bisa digunakan untuk memproduksi barang lain atau langsung dikonsumsi.
Contoh spesifiknya: emas, perak, minyak mentah, gas alam, biji kopi, gula, tembaga, aluminium, semuanya termasuk. Kamu bisa menganggapnya sebagai “darah” dari ekonomi global—tanpa bahan baku ini, pabrik tidak bisa beroperasi, orang juga tidak bisa makan.
Berdasarkan sumbernya, Commodity secara umum dibagi menjadi dua kategori:
Komoditas lunak (Soft Commodities) — berasal dari pertanian, seperti kopi, gula, kapas. Ciri khasnya: masa simpan pendek, mudah dipengaruhi cuaca, harga sangat fluktuatif.
Komoditas keras (Hard Commodities) — berasal dari pertambangan, seperti logam dan energi. Barang ini bisa disimpan dalam waktu lama, tapi terbatas sumber dayanya, begitu habis, ya habis.
Apa saja jenis Commodity yang ada?
Berdasarkan cara produksinya dan penggunaannya, dibagi menjadi empat bagian utama:
Produk pertanian: kopi, gula, kapas, kedelai, dll. Harga barang ini sangat mudah jatuh karena tergantung cuaca, serangan hama, hasil panen.
Produk hewan dan daging: daging babi, sapi, kambing, dll. Dengan meningkatnya pendapatan negara berkembang, permintaan daging semakin besar.
Produk energi: minyak mentah (termasuk WTI dan Brent), gas alam, dll. Semakin panas ekonomi global, semakin tinggi permintaannya.
Logam dan logam mulia: emas (XAUUSD), perak (XAGUSD), tembaga (COPPER), platinum (XPTUSD), palladium (XPDUSD), dll. Barang ini adalah bahan industri sekaligus aset safe haven.
Di antara semua Commodity tersebut, emas, kopi, gula, minyak mentah, gas alam, tembaga adalah yang paling aktif diperdagangkan.
Apa yang menyebabkan harga Commodity naik turun?
Kalau mau untung dari perdagangan Commodity, kamu harus paham kenapa harga bisa naik turun. Ada empat faktor utama:
1. Perubahan dari sisi permintaan Saat ekonomi baik, pabrik membutuhkan lebih banyak bahan baku, harga pun naik. Negara berkembang yang pendapatannya meningkat, konsumsi daging dan minyak juga bertambah, harga ikut melambung. Sebaliknya, saat ekonomi melambat, harga turun.
2. Kendala dari sisi pasokan Produksi Commodity dipengaruhi banyak faktor: musim, cuaca, biaya tambang, risiko politik. Kalau daerah utama produksi mengalami kekeringan atau kerusuhan politik, pasokan tiba-tiba berkurang, harga langsung melambung.
3. Peristiwa acak yang tidak bisa dikendalikan Pemanasan global menyebabkan cuaca ekstrem, perang mengganggu pasokan energi, pandemi mengubah pola konsumsi. Peristiwa black swan ini bisa langsung mengubah arah harga.
4. Dorongan dari spekulan Investor besar masuk ke pasar berjangka Commodity, seringkali mengikuti tren naik turun. Harga tinggi menarik lebih banyak orang masuk, lalu harga pun semakin terdorong naik, menciptakan siklus penguatan sendiri.
Apa manfaat trading Commodity?
Hedge terhadap risiko inflasi: emas, perak, minyak mentah sering tampil kuat saat inflasi, melindungi daya beli aset kamu.
Diversifikasi risiko investasi: pergerakan harga Commodity biasanya tidak berkorelasi dengan saham dan obligasi, jadi bisa mengurangi volatilitas portofolio.
Likuiditas tinggi: volume transaksi besar, kapan saja bisa masuk dan keluar pasar, tidak perlu khawatir tidak ada pembeli.
Potensi keuntungan besar: saat ekonomi tidak pasti, harga Commodity bisa melonjak tajam. Apalagi saat pasokan terbatas, peluang profit dalam waktu singkat sangat besar.
Potensi pertumbuhan jangka panjang: dengan bertambahnya populasi global dan industrialisasi negara berkembang, permintaan banyak Commodity tetap meningkat.
Tapi, kamu harus tahu risiko-risikonya
1. Jangan remehkan risiko leverage Perdagangan Commodity sering memakai leverage, semakin tinggi leverage, semakin besar risiko. Banyak yang bangkrut karena terlalu banyak memakai leverage dan salah langkah.
2. Volatilitas adalah pedang bermata dua Harga Commodity biasanya dua kali lipat volatilitas saham, empat kali obligasi. Ini berarti akun bisa turun drastis dalam waktu singkat, dan membuat orang gampang panik.
3. Berlawanan dengan pergerakan saham Seringkali saat Commodity naik, saham turun, dan sebaliknya. Ini bagus untuk diversifikasi, tapi juga berarti sulit untuk profit sekaligus di kedua pasar.
4. Tekanan lingkungan dan regulasi Industri minyak, pertambangan, pertanian menghadapi regulasi lingkungan yang semakin ketat. Pasokan dan biaya produksi di masa depan bisa berubah karena aturan ini.
Bagaimana pemula bisa mulai trading Commodity?
Kamu tidak perlu benar-benar beli kopi satu kaleng atau minyak satu drum dan simpan di rumah, ada beberapa cara yang lebih cerdas:
Cara 1: ETF Commodity
Ini cara paling simpel. ETF adalah keranjang aset yang biasanya mengikuti harga suatu Commodity. Keuntungannya: modal awal kecil, bisa beli jual kapan saja, tidak perlu pusing soal penyimpanan. Kekurangannya: biaya bisa cukup tinggi.
Cara 2: Kontrak berjangka (Futures)
Ini cara yang lebih profesional. Kamu buat kontrak, setuju beli/jual Commodity di masa depan dengan harga hari ini. Leverage lebih tinggi, margin lebih kecil, tapi risikonya juga besar. Cocok untuk trader berpengalaman. Contohnya: WTI crude oil futures (USOIL-F) dan Brent crude oil futures (UKOIL-F).
Cara 3: Saham perusahaan terkait
Kalau merasa trading langsung terlalu rumit, bisa beli saham perusahaan yang bergerak di bidang Commodity, seperti perusahaan tambang, minyak, pertanian. Jadi kamu ikut pergerakan harga Commodity secara tidak langsung, risiko lebih rendah.
Cara 4: CFD (Contract for Difference)
CFD artinya “kontrak selisih harga”. Singkatnya, kamu tidak perlu punya aset fisik, cukup kontrak dengan broker berdasarkan selisih harga. Keunggulan CFD:
Perhatikan biaya tersembunyi saat trading Commodity
Banyak orang cuma fokus pada spread, padahal ada biaya lain yang bisa menggerogoti keuntungan kamu:
Spread: selisih harga beli dan jual. Contoh: harga beli emas $1949.02, jual $1949.47, selisihnya 0.45. Kamu baru mulai profit setelah harga naik lebih dari spread ini.
Biaya overnight (Swap): kalau posisi kamu terbuka melewati tengah malam, akan dikenai biaya swap. Besar kecilnya tergantung instrumen dan arah posisi.
Komisi: beberapa broker mengenakan biaya transaksi, ada yang tidak. Jadi penting memilih broker yang transparan.
Jadi, jangan cuma lihat keuntungan kotor, hitung semua biaya agar tahu profit bersihmu.
Jadwal trading Commodity
Tidak semua Commodity diperdagangkan 24 jam. Waktu operasional tergantung bursa. Berikut jadwal umum (waktu Thailand):
Kesimpulan: Apakah Commodity layak diperhatikan?
Sekarang kamu sudah tahu Commodity apa, cara tradingnya, dan risikonya. Yang terpenting: Commodity sebaiknya bukan satu-satunya instrumen investasi, tapi bagian dari portofolio.
Pilih broker yang tepat—yang menawarkan banyak instrumen, proses deposit dan penarikan cepat, biaya kompetitif. Dan yang paling penting, sebelum benar-benar trading, pahami betul apa yang kamu perdagangkan.
Jangan tergoda oleh janji keuntungan besar dari Commodity. Investasi yang stabil dan terukur selalu lebih baik daripada kejar-kejaran keuntungan instan.