

Carmelo Anthony, sosok legendaris NBA sekaligus Hall of Famer, telah menorehkan karier cemerlang selama lebih dari dua dekade di kancah basket profesional. Terkenal akan kemampuan mencetak poin dan daya juangnya yang luar biasa, Anthony tidak hanya berjaya di lapangan tetapi juga aktif dalam berbagai usaha bisnis dan peluang investasi selama kariernya. Seperti banyak atlet profesional lainnya, Anthony berupaya mendiversifikasi sumber penghasilannya serta memastikan keamanan finansial di luar masa bermainnya.
Dalam dunia olahraga profesional, para atlet kerap dihadapkan pada beragam peluang investasi, mulai dari saham dan properti tradisional hingga teknologi baru serta instrumen keuangan inovatif. Pasar cryptocurrency, yang telah tumbuh secara eksponensial dalam satu dekade terakhir, menarik minat investor dari seluruh sektor, termasuk para atlet dan selebritas ternama. Namun, tidak semua yang melihat potensi cryptocurrency sejak dini memutuskan untuk berinvestasi, dan kisah Anthony menjadi contoh nyata peluang yang terlewatkan di ranah ini.
Pada sebuah wawancara sebelumnya, Carmelo Anthony mengungkapkan penyesalan finansial yang signifikan: melewatkan peluang investasi awal di cryptocurrency. Anthony menyampaikan bahwa beberapa tahun lalu, ketika cryptocurrency masih di fase awal dan relatif belum dikenal investor arus utama, ia serius mempertimbangkan untuk masuk ke pasar kripto. Saat itu, aset digital mulai dilirik para penggiat teknologi dan investor visioner, menjadi peluang yang kemudian terbukti sangat menguntungkan.
Anthony mengakui telah menangkap potensi tren mata uang digital ini sejak awal. Ia melihat meningkatnya minat terhadap teknologi blockchain dan aset digital, memahami bahwa hal tersebut menjadi perubahan mendasar dalam transaksi dan penyimpanan nilai di masa mendatang. Namun, meski sudah memiliki kesadaran dan niat awal untuk berinvestasi, Anthony pada akhirnya tidak merealisasikan pembelian cryptocurrency di periode kritis tersebut.
Waktu menjadi faktor penting dalam peluang yang terlewat ini. Jika Anthony berinvestasi pada aset kripto utama di masa-masa awal, hasil yang diraih bisa sangat besar, seiring pertumbuhan eksponensial pasar kripto selama beberapa tahun terakhir. Bitcoin, misalnya, telah melonjak ribuan persen dari valuasi awalnya, dan berbagai cryptocurrency lainnya juga mencatat kenaikan luar biasa.
Salah satu aspek paling menarik dari kisah Anthony adalah penjelasannya mengenai alasan tidak berinvestasi meski tertarik sejak awal. Menurut Anthony, ia mendapat pengaruh dari lingkaran terdekatnya yang meragukan potensi cryptocurrency. Faktor eksternal ini sangat berperan dalam proses pengambilan keputusannya, hingga akhirnya ia mengabaikan naluri dan penilaian pribadinya atas potensi aset digital.
Pengaruh penasihat, teman, dan kolega memang lazim memengaruhi keputusan investasi, khususnya bagi tokoh publik yang sering mengandalkan penasihat keuangan dan orang kepercayaan. Dalam kasus Anthony, suara hati-hati dan skeptis di sekitarnya cukup kuat untuk menepis penilaiannya sendiri terkait peluang cryptocurrency. Situasi ini menyoroti tantangan klasik bagi para investor: menyeimbangkan keyakinan pribadi dengan saran eksternal, apalagi bila berhadapan dengan peluang investasi baru atau tidak konvensional.
Pengalaman Anthony juga menegaskan sulitnya mengambil keputusan investasi di tengah ketidakpastian dan pendapat yang saling bertolak belakang. Saat ia mempertimbangkan investasi kripto, teknologi ini masih relatif baru, regulasi belum jelas, dan adopsi arus utama masih terbatas. Faktor-faktor ini kemungkinan besar berkontribusi pada skeptisisme di lingkungannya, meski nalurinya sendiri melihat cryptocurrency sebagai peluang bernilai.
Merefleksikan peluang yang terlewat, Carmelo Anthony menyampaikan pembelajaran penting bagi para investor dan pengambil keputusan. Sikap terbuka dalam mengakui penyesalan ini menandakan kerendahan hati dan keinginan untuk berbagi wawasan yang bermanfaat. Pengalaman ini mengingatkan pentingnya percaya pada penilaian pribadi serta melakukan due diligence mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.
Kisah Anthony menyajikan beberapa pelajaran utama bagi investor. Pertama, menyoroti potensi kerugian akibat membiarkan skeptisisme eksternal menyingkirkan keyakinan pribadi, terutama setelah riset dan analisis mendalam. Kedua, menegaskan pentingnya bertindak atas hasil riset, bukan sekadar mengikuti arus atau menghindari keputusan investasi yang tidak lazim. Ketiga, menunjukkan betapa vitalnya faktor waktu dalam investasi, khususnya di pasar yang berkembang sangat dinamis seperti cryptocurrency.
Bagi atlet profesional dan individu berpenghasilan tinggi lainnya, pengalaman Anthony juga menekankan pentingnya literasi keuangan dan berpikir mandiri dalam investasi. Meski nasihat dari penasihat tepercaya tetap diperlukan, kemampuan menilai peluang secara independen dan mempercayai penilaian sendiri sama pentingnya untuk keberhasilan keuangan jangka panjang.
Agar benar-benar memahami makna peluang yang terlewat oleh Anthony, penting untuk melihat perkembangan pasar cryptocurrency secara menyeluruh. Pada tahun-tahun awal cryptocurrency, sekitar 2009 hingga 2015, mata uang digital umumnya diabaikan institusi keuangan arus utama dan investor tradisional. Bitcoin, sebagai cryptocurrency pertama dan terbesar, masih diperdagangkan pada harga sangat rendah, sementara keseluruhan ekosistem kripto masih dalam tahap percobaan.
Pada periode ini, pihak-pihak yang telah melihat potensi teknologi blockchain dan aset digital berkesempatan berinvestasi pada valuasi yang kini tampak sangat murah. Kini, pasar kripto telah tumbuh menjadi industri triliunan dolar, dengan ribuan cryptocurrency dan proyek blockchain yang menarik investasi dari institusi, korporasi, hingga individu di seluruh dunia.
Pertumbuhan pasar cryptocurrency ditandai volatilitas tinggi, dengan fase pertumbuhan eksplosif diikuti koreksi tajam. Meski volatil, tren jangka panjangnya tetap menguat, khususnya bagi mereka yang berinvestasi sejak dini dan bertahan selama siklus pasar. Cryptocurrency utama kini telah diterima luas, beberapa negara mengadopsinya sebagai alat pembayaran resmi, serta banyak korporasi menambahkannya ke neraca keuangan mereka.
Bagi investor awal yang percaya pada potensi cryptocurrency dan bertindak berdasarkan keyakinan tersebut, hasil investasinya benar-benar mengubah hidup. Konteks ini membuat peluang yang terlewat oleh Anthony semakin bermakna, bukan sekadar kerugian finansial, tetapi juga studi kasus tentang pentingnya keyakinan dan timing dalam keputusan investasi. Pengalamannya menjadi peringatan akan konsekuensi jika keraguan dan skeptisisme eksternal menghambat aksi atas wawasan investasi yang telah dianalisis matang.
Carmelo Anthony menyesal melewatkan investasi kripto sejak awal karena keraguannya sendiri. Ia mengakui ini sebagai kesalahan besar karena pasar cryptocurrency telah tumbuh pesat. Kurangnya keyakinan membuatnya gagal memanfaatkan peluang emas tersebut.
Michael Saylor, Elon Musk, dan Mark Cuban adalah investor kripto awal yang meraih keuntungan besar. Tim Draper membeli 30.000 Bitcoin di lelang dan memprediksi nilainya akan mencapai 250.000 dolar AS. Kevin O'Leary, Larry Fink, dan sejumlah investor terkemuka lainnya juga akhirnya mendukung kripto setelah sebelumnya ragu.
Fokus pada siklus halving Bitcoin dan sentimen pasar dengan indikator teknikal untuk mendeteksi titik terendah. Terapkan strategi dollar-cost averaging untuk masuk secara bertahap. Pantau data on-chain dan metrik utama untuk menemukan peluang sebelum adopsi massal terjadi.
Investasi kripto sejak awal menghadapi risiko besar seperti volatilitas ekstrem, peretasan bursa, pencurian, penindakan regulasi, celah smart contract, kegagalan proyek, serta kehilangan private key. Manipulasi pasar dan penipuan juga menjadi ancaman nyata bagi investor awal.
Bitcoin menjadi peluang investasi utama pada awal 2010-an, diikuti altcoin seperti Litecoin yang mulai bermunculan. Investor awal yang menahan Bitcoin dalam jangka panjang memperoleh keuntungan besar seiring pertumbuhan adopsi secara eksponensial.











